• Document: ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN CVA INFARK Setiadi, S.Kep., Ns., M.Kep Dosen Stikes Hang Tuah Surabaya
  • Size: 514.45 KB
  • Uploaded: 2019-03-24 01:45:21
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN CVA INFARK Setiadi, S.Kep., Ns., M.Kep Dosen Stikes Hang Tuah Surabaya A. Pendahuluan Serangan otak merupakan istilah kontemporer untuk CVA Infark atau cedera serebro vaskuler yang mengacu pada gangguan suplai darah ke otak secara mendadak sebagai akibat dari oklusi pembuluh darah parsial atau total, atau akibat pecahnya pembuluh darah. Gangguan aliran darah ini akan mengurangi suplai oksigen, glukosa dan nutrien lain ke bagian otak yang di suplai oleh pembuluh darah yang terkena dan akan mengakibatkan gangguan pada sejumlah fungsi otak (Esther, 2009). CVA Infark pada umumnya lebih banyak dijumpai pada usia lanjut tetapi dapat pula di temukan pada dewasa muda bahkan juga anak, yang umumnya disebabkan karena kelainan bawaan pembuluh darah (Harsono, 2005). Pada pasien CVA Infark dapat menimbulkan terjadi kelumpuhan pada sebagian atau seluruh tubuhnya, bicaranya pelo, penglihatan mengalami penurunan, ptosis, vertigo, kesulitan dalam bicara. Serangan CVA Infark dapat terjadi karena kelalaian manusia dalam pola hidupnya, banyak orang yang tidak melakukan pola hidup sehat seperti makan – makanan yang mengandung garam tinggi, mengandung kolesterol, rasa manis, minum – minum yang beralkohol, dan merokok. Pola hidup tersebut merupakan faktor resiko dari CVA Infark, jika hal tersebut selalu dilakukan maka akan timbul maslah keperawatan resiko PTIK, ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral, gangguan mobilitas fisik akibat adanya kelemahan / kelumpuhan. Selain timbulnya masalah keperawatan, juga terdapat gangguan pada kebutuhan dasar manusia, seperti: kebutuhan dasra personal hygiene, elminasi, dan nutrisi. Di Amerika pada tahun 2005 prevalensi kematian karena stroke mencapai 2,6%. Prevalensi tersebut meningkat sesuai dengan kelompok usia yaitu 0,8% pada kelompok usia 18-44 tahun 2,7% pada kelompok usia 45-64 tahun dan 8,1% pada kelompok usia 65 tahun lebih. Gambaran dan profil CVA Infark di Indonesia, menyatakan bahwa penderita laki – laki lebih banyak daripada perempuan dan profil usia dibawah 45 tahun cukup banyak yaitu 11,8%, usia 45-64% dan usia diatas 65 tahun 33,5% (Rasyid, AL, 2007). Di ICU UGD pada tahun 2012 pasien denga diagnosa CVA Infark mencapai 98 orang. Menurut data yang diperoleh dari ruang ICU IGD RUMKITAL Dr. Ramelan Surabaya selama bulan Januari – Juni 2013, didapatkan jumlah klien dengan kasus CVA Infark sebanyak 39 klien dari jumlah total klien yang pernah di rawat di ruang ICU IGD sebanyak 558 orang, sehingga prosentase penyakit CVA Infark sebesar 6.98% sedangkan angka kematian sebanyak 13 orang (33%). Sebagian CVA Infark merupakan jenis iskemik dan terjadi karena oklusi arteri oleh trombosis atau emboli yang berkaitan dengan ateroklerosis. Trombosis yaitu penyebab CVA Infark yang paling sering dijumpai, biasanya pada lansia. Pada aterosklerosis mula – mula terbentuk daerah berlemak yang berwarna kuning pada permukaan interna arteri. Seiring waktu terbentuk plak fibrosis (ateroma) di lokasiyang terbatas seperti di percabangan arteri dan bifurkasio yang berlawanan. Penyempitan atau oklusi tersebut yang akhirnya menyebabkan suplai darah ke serebral berkurang sehingga perfusi jaringan otak mengalami gangguan. Suplai darah ke otak yang berkurang menyebabkan oksigen di dalam otak juga berkurang sehingga otak mengalami asidosis, natrium klorida, dan air masuk ke dalam sel saraf dan kalium meninggalkan sel saraf sehingga otak mengalami edema dan jika pada saraf serebral terjadi pecahnya pembuluh darah sehingga timbul perdarahn maka akan terjadi masalah meningkatan tekanan intrakranial (Esther, 2009). Suplai darah ke serebral yang berkurang menyebabkan gangguan perfusi jaringan ditunjukkan dengan adanya hasil CT Scan yang terkesan terdapat suatu infark, pasien mengalami pusing, kesadaran menurun, tekanan darah tinggi. Kerusakan neuromuskular karena adanya gangguan pada nervus mengakibatkan pasien mengalami kelemahan / kelumpuhan sehingga terjadi hambatan mobolitas fisik, peningkatan frekuensi nafas bentuk kompensasi tubuh dalam memenuhi nutrisi jaringan – jaringan otak, agar tidak terjadi iskemik jaringan otak karena kekurangan oksigen, selain itu hiperventilasi disebabkan karena lemahnya motorik volunter sehingga terjadi ketidakefektifan bersihan jalan nafas. Tekanan darah tinggi disebabkan viskositas pembuluh darah yang menurun akibat diabetes melitus yang diderita. Hipertensi pada pembuluh darah berbahay, khususnya pembuluh darah di otak, jika terjadi perembesan sampai kebocoran maka akan membuat PTIK, dan akan mempengaruhi kesadaran klien, sehingga terjadi ketidakefektifan perfusi jaringan serebral. Untuk permasalahan pada CVA Infark, peran perawat sebagai integral dari pelayanan kesehatan di rumah sakit yang bertugas 24 jam perhari memegang peranan penting dalam proses asuhan keperawatan yang mencakup promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif melalui tahap proses keperawatan dengan sasaran utama kognitif, afektif dan psikomotor sangat diperlukan oleh

Recently converted files (publicly available):