• Document: BAB I PENDAHULUAN. Burung adalah salah satu kekayaan hayati yang dimiliki oleh Indonesia.
  • Size: 216.1 KB
  • Uploaded: 2018-10-11 16:05:57
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

BAB I PENDAHULUAN B. Latar Belakang Burung adalah salah satu kekayaan hayati yang dimiliki oleh Indonesia. Sukmantoro et al. (2007) menyebutkan bahwa jumlah burung di Indonesia mencapai 1598 jenis dari 10000 jenis burung yang ada di dunia, dengan 372 jenis status endemik Indonesia, spesies burung Familia Columbidae merupakan salah satunya. Burung-burung yang termasuk ke dalam Familia Columbidae diantaranya: Columba livia (burung merpati), Streptopelia chinensis (burung terkukur), Streptopelia bitorquata (burung puter), dan Geopelia striata (burung perkutut). Persebaran burung Familia Columbidae ini cukup luas mulai dari Asia, India dan Eropa (Wu et al., 2007). Burung yang paling terkenal dari Familia ini adalah burung perkutut dengan suaranya yang khas. Menurut Sarwono (1991), burung perkutut berbeda dengan burung berkicau. Pada burung berkicau unsur latihan sangat memegang peranan, sedangkan perkutut memiliki dasar bakat yang dibawa sejak lahir dan tidak dapat diubah. Kualitas suara pada burung perkutut ini menentukan nilai jualnya, semakin bagus suaranya maka nilai jualnya pun semakin tinggi. Jika anakan burung puter harganya Rp. 20.000/ekor, sedangkan burung merpati Rp. 35.000/ekor, dan burung tekukur Rp. 150.000, maka burung perkutut anakan umur 2 bulan dapat mencapai Rp. 750.000 – Rp. 1.500.000/ekor sedangkan harga perkutut juara dapat mencapai harga Rp. 750.000.000/ekor (Okto, 1999), merupa- 1 2 kan harga yang fantastis bagi seekor burung. Bibit burung yang baik adalah pejantan yang dipilih dari burung bersuara bagus (nyaring, bening dan jelas), sehat, bertubuh besar dan rajin berbunyi (Sarwono & Sujatmaka, 1999). Keempat anggota burung Familia Columbidae, merupakan hewan yang sudah sejak lama dipelihara dan dibudidayakan oleh para penggemar burung. Penentuan jenis kelamin memegang peranan penting terutama berkaitan dengan pemilihan anakan dari bibit unggul. Namun, ada kendala yang ditemukan pada usaha budidaya burung Familia Columbidae ini yaitu kesulitan dalam penentuan jenis kelamin. Wu et al. (2007) mengatakan bahwa 60% dari keseluruhan burung Familia Columbidae merupakan spesies burung monomorfik. Pada spesies burung monomorfik, baik burung yang masih muda (young bird) maupun yang sudah dewasa (melewati masa pubertas) jenis kelaminnya sangat sulit untuk tentukan berdasarkan analisis morfologi luarnya saja (Cerit & Avanus, 2006). Diperlukan teknik-teknik khusus untuk menentukan jenis kelamin pada burung Familia Columbidae ini, diantaranya: vent sexing, laparoscopy, steroid sexing, dan karyotyping (Cerit & Avanus, 2006). Kemudahan dari metode-metode tersebut tergantung dari fasilitas laboratorium dan pengalaman para peneliti. Vent sexing memerlukan seorang ahli dalam menentukan jenis kelamin spesies burung monomorfik. Laparaoscopy, cara ini sangat riskan karena disertai pembedahan terlebih bila diterapkan pada burung berukuran tubuh kecil seperti perkutut contohnya. Selain itu, setelah pembedahan selesai, maka burung tersebut harus dirawat dan dipulihkan kembali dengan perawatan intensif. Analisis hormon steroid pada telur (steroid sexing), Petrie et al. (2001) menemukan bahwa 3 konsentrasi hormon yang terdapat pada kuning telur jantan dengan betina berbeda secara signifikan. Namun, metode ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut, khususnya mengenai akurasi dan spesifikasi pengukuran hormon (Von Engelhardt & Groothuis, 2005). Karakterisasi kromosom (Karyotyping), dilakukan dengan membadingkan ukuran kromosom W yang berukuran lebih kecil dari kromosom Z. Kelemahan metode ini adalah sulitnya mendapatkan sel yang baik dalam kultur sel (Christidis, 1985). Inovasi terbaru yang sudah lebih maju telah ditemukan oleh Griffiths et al. (1998), yaitu penentuan jenis kelamin menggunakan teknik molekuler. Sejak ditemukannya gen jenis kelamin dengan teknik molekuler, teknik-teknik lainnya sudah jarang dilakukan. Inovasi teknik molekuler ini telah membuka jalan baru bagi para peneliti yang bergerak pada bidang ini (Ellegren, 1996). Menurut Suryanto (2003), perkembangan ilmu dan pengetahuan dalam biologi molekuler, khususnya pada pengkajian karakter bahan genetik telah menghasilkan kemajuan yang sangat pesat bagi perkembangan penelaahan suatu organisme dan pemanfaatannya bagi kesejahteraan manusia. Clinton (1994) mengatakan bahwa dengan teknik molekuler proses identifikasi jenis kelamin menjadi lebih cepat, jenis kelamin burung sudah dapat ditentukan pada embrio burung yang berusia 5-7 hari (deteksi dini) dan hasilnya sudah dapat diketahui pada hari berikutnya, sedangkan jika menggunakan teknik lain, harus menunggu hingga burungnya mencapai tahap dewasa. Sarwono (1991) mengatakan bahwa burung perkutut mencapai dewasa kelamin pada umur 6 bulan da

Recently converted files (publicly available):