• Document: LAPORAN PENDAHULUAN MYASTENIA GRAVIS. Erlan YUdistira S.Kep NIM
  • Size: 294.04 KB
  • Uploaded: 2018-12-27 07:30:24
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

LAPORAN PENDAHULUAN MYASTENIA GRAVIS Erlan YUdistira S.Kep NIM. 400 613 0002 PROGRAM PROFESI NERS (PPN) V111 SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DHARMA HUSADA BANDUNG 2014 1. Definisi Myasthenia gravis merupakan penyakit dengan kelemahan otot yang parah dan satu-satunya penyakit neuromuscular dengan gabungan antara cepatnya terjadi kelelahan otot-otot volunteer dan lambatnya pemulihan (dapat memakan waktu 10-20 kali lebih lama dari normal), (Price dan Wilson, 1995). Penyakit ini timbul karena adanya gangguan dari synaptic transmission atau pada neuromuscular junction. Gangguan tersebut akan mempengaruhi transmisi neuromuscular pada otot tubuh yang kerjanya di bawah kesadaran seseorang (volunter). Karakteristik yang muncul berupa kelemahan yang berlebihan dan umumnya terjadi kelelahan pada otot-otot volunteer dan hal itu dipengaruhi oleh fungsi saraf cranial (Brunner dan Suddarth, 2002). Myasthenia gravis merupakan sindroma klinis akibat kegagalan transmisi neuromoskular yang disebabkan oleh hambatan destruksi reseptor asetilkolin oleh autoantibodi. Sehingga dalam hal ini, myasthenia gravis merupakan penyakit autoimun yang spesifik organ. Antibodi reseptor asetilkolin terdapat di dalam serum pada hampir semua pasien. Antibodi ini merupakan antibodi IgG dan dapat melewati plasenta pada kehamilan (Chandrasoma dan Taylor, 2005). Myasthenia Grafis adalah penyakit autoimun kronis dari transmisi neuromuscular yang menghasilkan kelemahan otot. Istilah myasthenia berasal dari bahasa Latin yang berarti kelemahan otot, dan gravis yang berarti berat atau serius. Myasthenia gravis merupakan salah satu penyakit autoimun. Dimana penyakir autoimun menurut kamus kedokteran merupakan suatu jenis penyakit ketika antibodi menyerang jaringan-jaringannya sendiri. 2. Etiologi Penyebab pasti masih belum diketahui. Akan tetapi, penyakit ini diyakini karena: 1. Respon autoimun. 2. Pelepasan asetilkolin yang tidak efektif. 3. Respon serabut otot yang tidak adekuat terhadap asetilkolin. Myasthenia gravis disebabkan oleh gangguan transimisi impuls saraf ke otot. Hal ini terjadi ketika komunikasi normal antara saraf dan otot terganggu di persimpangan neuromuskuler dimana sel-sel saraf terhubung dengan otot-otot yang dikontrol. Biasanya bila impuls menuju saraf, ujung saraf akan melepaskan zat neurotransmitter yang disebut asetilkolin. Asetilkolin berjalan dari sambungan neuromuskuler dan mengikat reseptor asetilkolin yang diaktifkan dan menghasilkan kontraksi otot. Pada myasthenia gravis antibodi blok mengubah atau menghancurkan reseptor untuk asetilkolin pada sambungan neuromuskuler yang mencegah terjadinya kontraksi otot. Antibodi ini diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh. 3. Manifestasi Klinis Miasthenia Gravisdapat terjadi secara berangsur atau mendadak. Tanda dan gejala: 1. Pengatupan kelopak mata yang lemah, ptosis, dan diplopia akibat kerusakan transmisi neuromuskuler pada nervus kranialis yang mempersarafi otot-otot bola mata (mungkin menjadi satu-satunya gejala yang ada). 2. Kelemahan otot skeletal dan keluhan mudah lelah yang akan bertambah ketika hari semakin siang, tetapi akan berkurang setelah pasien beristirahat (pada stadium awal MG dapat terjadi keadaan mudah lelah pada otot-otot tertentu tanpa ada gejala lain. Kemudian, keadaan ini bisa menjadi cukup berat dan menyebabkan paralisis). 3. Kelemahan otot yang progresif dan kehilangan fungsi yang menyertai menurut kelompok otot yang terkena; keadaan ini menjadi semakin parah pada saat haid dan sesudah mengalami stress emosi, terkena cahaya matahari dalam waktu lama, serta pada saat menderita demam atau infeksi. 4. Tampilan wajah yang kosong serta tanpa ekspresi dan nada vocal hidung, yang semua terjadi sekunder karena kerusakan transmisi pada nervus kranialis yang mempersarafi otot-otot wajah. 5. Regurgitasi cairan yang sering ke dalam hidung dan kesulitan mengunyah serta menelan akibat terkenanya nervus kranialis. 6. Kelopak mata yang jatuh akibat kelemahan otot-otot wajah dan ekstraokuler. 7. Kelemahan otot-otot leher dengan kepala yang miring ke belakang untuk melihat (otot-otot leher terlalu lemah untuk menyangga kepala tanpa gerakan menyentak). 8. Kelemahan otot-otot pernapasan, penurunan volume tidal serta kapasitas vital akibat kerusakan transmisi pada diafragma yang menimbulkan kesulitan bernapas. Keadaan ini merupakan faktor predisposisi pneumonia dan infeksi saluran napas lain pada pasien myasthenia gravis. 9. Kelemahan otot pernapasan (krisis miastenik) mungkin cukup berat sehingga diperlukan penanganan kedaruratan jalan napas dan pemasangan ventilator mekanis. 4. Patofisiologi/WOC Myasthenia gravis merupakan gangguan neuromuskular junction yang d

Recently converted files (publicly available):