• Document: SENYAWA ANTIFEEDANT DARI BIJI KOKOSSAN (LANSIUM DOMESTICUM CORR VAR. KOKOSSAN), HUBUNGAN STRUKTUR KIMIA DENGAN AKTIVITAS ANTIFEEDANT (TAHAP II)
  • Size: 229.42 KB
  • Uploaded: 2018-12-05 21:14:52
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

LAPORAN PENELITIAN SENYAWA ANTIFEEDANT DARI BIJI KOKOSSAN (LANSIUM DOMESTICUM CORR VAR. KOKOSSAN), HUBUNGAN STRUKTUR KIMIA DENGAN AKTIVITAS ANTIFEEDANT (TAHAP II) Oleh Tri Mayanti, MSi (Ketua) Dr. Wawan Hermawan, MS (Anggota) Nurlelasari, MSi (Anggota) Desi Harneti, MSi (Anggota) DIBIAYAI OLEH DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL SESUAI DENGAN PERJANJIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN PENELITIAN NOMOR : 013/SP3/PP/DP2M/II/2006 TANGGAL 1 PEBRUARI 2006 UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG NOVEMBER 2006 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada saat ini pengembangan pestisida nabati diarahkan pada penemuan senyawa-senyawa yang tidak hanya efektif dalam mengendalikan serangga tetapi juga mempunyai aktivitas yang selektif terhadap satu atau jumlah terbatas serangga fitofagoes. Latar belakang pemikiran ini adalah sasaran untuk mengurangi dampak ekologis lingkungan yang merugikan seandainya tiga kriteria yaitu: efektif, spesifik dan aman dapat serasi dengan prinsip pengelolaan serangga hama yang modern maka produk alami ini dapat memenuhi kriteria agent pengendali biorasional. Agent pengendali biorasional dari produk alami dapat dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah yang mengubah pertumbuhan, perkembangan dan reproduksi serangga, disebut pengendali pertumbuhan serangga atau insect growth regulator. Kelompok kedua adalah yang mengubah perilaku serangga, termasuk ke dalam kelompok ini feromon, penolak (repellent), penarik (attractant), antimakan (antifeedant) dan stimulant serta penolak peletakan telur (oviposisi). Terdapat anggapan bahwa yang memiliki prospek komersial yang baik adalah feromon dan antifeedant (Ruslan dkk, 1989) . Keberadaan dan potensi senyawa antifeedant telah lama dikenal, terutama di Amerika Serikat terutama mulai 1930. Senyawa antifeedant didefinisikan sebagai suatu zat yang apabila diujikan terhadap serangga akan menghentikan aktivitas makan secara sementara atau permanen tergantung potensi zat tersebut (Miles, et.al., 1985). Menurut Isman et.al (1996) antifeedant adalah substansi pengubah perilaku yang mencegah makan melalui aksi langsung pada peripheral sensilla (organ perasa) serangga. Definisi ini menghilangkan senyawa yang menekan makan melalui sistem saraf pusat (diikuti ingestion dan absorpsi) atau senyawa yang memiliki toksisitas subletal. Senyawa antifeedant telah menjadi perhatian yang menarik sebagai salah satu alternatif dalam perlindungan tanaman pangan oleh karena senyawa ini tidak membunuh, mengusir atau menjerat serangga hama tetapi hanya menghambat makan (Tjokronegoro, 1987). Senyawa antifeedant juga banyak digunakan dalam bioteknologi tanaman guna menciptakan tanaman yang tahan terhadap serangan serangga hama (Russel, 1991). Aktivitas antifeedant dapat dijadikan suatu evaluasi awal untuk penemuan senyawa baru yang bersifat aktif antifeedant dari tumbuhan tersebut. Penemuan senyawa-senyawa baru yang dapat berfungsi sebagai pengendali hama dapat dilakukan dengan cara pemisahan menggunakan berbagai teknik ekstraksi dan kromatografi yang dipantau dengan uji hayati pada setiap tahap pengerjaannya. Senyawa aktif baru yang diperoleh diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai suatu senyawa yang potensial dan memiliki keunggulan untuk dapat diaplikasikan dalam bidang pertanian. 1.2. Dasar Pemikiran Suku Meliaceae merupakan penghasil zat-zat pahit bermanfaat sebagai substansi antifeedant serangga dan penghambat pertumbuhan dengan toksisitas rendah terhadap mamalia (Omar et.al., 2005). Lansium domesticum Corr sebagai salah satu jenis tumbuhan dari suku Meliaceae merupakan sumber senyawa-senyawa terpenoid dengan berbagai aktivitas hayati yang menarik. Jenis ini memiliki tiga kultivar yaitu: duku, kokossan dan pisitan. Lima senyawa triterpena baru dengan aktivitas antifeedant terhadap Sitophilus oryzae telah dilaporkan dari kulit kayu duku (Omar et. al., 2005). Enam buah tetranortriterpenoid, yaitu dukunolida A-F telah diisolasi dari biji duku (Nishizawa et.al., 1985 dan 1989), tiga senyawa triterpena glikosida, lansiosida A-C, dari kulit buah duku juga telah dilaporkan (Nishizawa et.al, 1982). Senyawa asam 3-okso-24-sikloarten-21-oat yang dapat menghambat pertumbuhan tumor kulit pada aktivasi virus Epstein Barr telah diisolasi dari daun duku (Nishizawa et. al, 1989). Penelitian terhadap kultivar lain dari L. domesticum yaitu kokossan dan pisitan belum banyak dilakukan. Satu-satunya laporan dari tumbuhan kokossan adalah ditemukannya senyawa golongan onocerandiendiona dari kulit buah oleh Kosela dkk (1992). Mengingat suku Meliaceae merupakan sumber melimpah bagi senyawa- senyawa insektisidal maka usaha untuk memperoleh senyawa antifeedant dari tumbuhan kokossan menarik untuk dilakukan.

Recently converted files (publicly available):