• Document: PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI PADA KURIKULUM 2013 Daniel Boli Kotan, S.Pd.,MM Tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah mereka yang belum
  • Size: 573.42 KB
  • Uploaded: 2019-05-17 13:48:17
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI PADA KURIKULUM 2013 Daniel Boli Kotan, S.Pd.,MM (daniel_kotan@yahoo.co.id) “Tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah mereka yang belum dapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar “ (Prof. DR. Yohanes Surya) ABSTRAK Kegiatan pembelajaran dan penilaian merupakan bagian tugas guru yang sangat penting dalam dunia pendidikan di sekolah. Dikatakan sangat penting, karena melalui kegiatan atau proses pembelajaran dan penilaian yang dirancang dengan baik oleh guru maka kompetensi (pengetahuan, sikap dan keterampilan) yang diharapkan untuk dimiliki oleh para peserta didik akan tercapai. Sebaliknya, apa bila guru kurang mampu mengelolah pembelajaran dan penilaian dengan baik maka output (keluaran/lulusan) pendidikan seperti yang diharapkan dalam rancangan kurikulum tidak akan tercapai. Karena itu seorang guru harus mutlak memiliki kompetensi/kemampuan dalam mengelolah pembelajaran dan penilaian. Maka para guru hendaknya terus mengasah kemampuannya itu melalui berbagai cara yaitu studi mandiri, studi lanjut (on going formation), pendidikan dan pelatihan, demi menghasilkan sumber daya manusia yang sungguh berkualitas dan bersaing di masyarakat, baik di dalam negeri maupun di tingkat global (internasional). Kata kunci; belajar, pembelajaran, penilaian, kompetensi, pendidikan, pelatihan ABSTRACT Learning and assessment activities are part of a very important task of teacher at the school. Said to be very important, because through the activities or learning and assessment process designed by the teacher competencies (knowledge, attitudes and skills ) are expected to be owned by the learner will be achieved. Conversely, what if the teacher is less able to manage learning and assessment with both the output (graduate) education as expected in the design of the curriculum will not be achieved.Therefore, a teacher must have absolute competence/ability to manage learning and assessment. Then the teachers should continue to hone her skills through a variety of ways that independent studies, further study (on-going formation), education and training , in order to produce a truly human resources and qualified to compete in the community, both domestically and on a global level (international) Keywords; learning, teaching, assessment, competence, education, training I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Setelah diberlakukan kurikulum 2013 (secara terbatas dan bertahap) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia, penulis mendapat kesempatan untuk memberikan pendidikan dan pelatihan serta sosialisasi kurikulum 2013 bagi guru-guru Pendidikan Agama Katolik di beberapa propinsi dan kabupaten di Indonesia. Pada pertemuan dengan para guru-guru tersebut, nampak bahwa guru-guru mengalami banyak kesulitan 1 dalam hal pengelolaan pembelajaran dan penilaian, selain sarana pembelajaran yang dirasakan sangat minim sehingga menghambat kegiatan pembelajaran di kelas. Berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran, guru-guru masih cenderung menjadi pusat pembelajaran, atau sumber belajar sementara para peserta didik menjadi objek pembelajaran. Dengan perkataan lain, selama kegiatan pembelajaran, guru aktif melakukan indoktrinasi dengan metode ceramah, dan para peserta didik duduk manis sebagai pendengar. Dengan demikian yang terjadi di kelas-kelas adalah kegiatan belajar guru aktif dan bukan kegiatan belajar peserta didik aktif. Belajar aktif (active learning) yang konsepnya adalah aktivitas pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mengalami kendala karena banyak guru kurang menguasai metodelogi dan media pembelajaran. Faktor lain yang turut menghambat kinerja guru dalam kegiatan pembelajaran adalah kurang maksimalnya fungsi pengawas sebagai supervisor yang bertugas mensupervisi kinerja guru, mengevaluasi kemudian memperbaikinya sehingga guru semakin berkompeten. Berkaitan dengan desain penilaian pembelajaran, guru-guru pendidikan agama katolik mengakui bahwa selama ini titik berat penilaian mereka pada ranah kognitif (pengetahuan), sementara ranah sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotorik) kurang diperhatikan. Menurut sharing para guru, sejatinya mereka berkeinginan untuk membuat penilaian sikap dan keterampilan namun mereka belum memiliki instrumen penilaian pada kedua ranah tersebut. Kelemahan para guru-guru di lapangan bukan semata karena mereka tidak mau belajar, tetapi karena mereka sangat jarang, bahkan ada yang mengakui belum pernah mendapat kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan guna meningkatkan profesionalitas mereka sebagai guru yang profesional. B. Permasalahan 1. Guru-guru Pendidikan Agama Katolik masih kurang menguasai metode-metode pembelajaran yang mendorong terciptanya

Recently converted files (publicly available):