• Document: ANALISIS USAHA DAN NILAI TAMBAH DARI USAHA PENGOLAHAN MARNING DAN EMPING JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN
  • Size: 278.46 KB
  • Uploaded: 2018-10-15 01:00:16
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

Awami N.A, dkk Analisis Usaha… ANALISIS USAHA DAN NILAI TAMBAH DARI USAHA PENGOLAHAN MARNING DAN EMPING JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN Shofia Nur Awami*, Masyhuri**, Lestari Rahayu Waluyati** * Fakultas Pertanian Universitas Wahid Hasyim ** Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada ABSTRACT This research aimed (1) to calculate the income and the profit of corn processing home industry (2) to determine the amount of added value of corn processing home industry as marning and corn chips in Grobogan District. This research covered analysis methods several including, the income and the profit analysis, and the added value Analysis according Hayami, et.al. (1987). The results showed that the average monthly total revenue for corn processing production into corn chip Rp.5.264.225 with total cost Rp. 4.531.532,- so that it can be seen that the average profit earned by entrepreneur is Rp.732.692. Corn processing into marning, the average monthly total revenue production of Rp.5.583.888 with total cost of Rp. 5.139.657,- so that it can be seen that the average profit obtained entrepreneur is Rp. 444,285. The added value of processing corn into chips is Rp. 4.574 per kilogram and for marning Rp. 2.823 per kilogram. Key words: added value, corn processing home industry, income. PENDAHULUAN Pembangunan agroindustri merupakan kelanjutan dari pembangunan pertanian. Hal ini telah dibuktikan bahwa agroindustri mampu meningkatkan pendapatan para pelaku agribisnis, mampu menyerap tenaga kerja, mampu meningkatkan perolehan devisa dan mampu mendorong munculnya industri yang lain (Soekartawi, 2005). Pengembangan agroindustri di Indonesia memiliki prospek yang cerah untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Meskipun banyak ditemukan sejumlah kendala, seperti keterbatasan pasar, kurang nyatanya peran agroindustri di pedesaan, diharapkan dengan adanya kerjasama semua pelaku usaha pertanian, agroindustri memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat (Supriyati, 2008). Agroindustri tidak dapat lepas dan merupakan bagian dari sistem agribisnis yang lebih luas. Sistem agribisnis perwujudan dari usaha pokok diversifikasi secara vertikal dan horizontal, yang proses penanganan komoditas dilakukan secara tuntas sejak proses produksi prapanen sampai dengan pascapanen dan pemasarannya. Sehingga dalam sistem agribisnis terdapat tiga subsistem secara vertikal, yaitu subsistem penyediaan sarana produksi, subsistem pengolahan hasil (agroindustri), dan subsistem pemasaran. Jagung merupakan salah satu komoditas pangan penting serta menjadi prioritas oleh Puslitbang/Balai Besar yang berada di bawah Badan Litbang Pertanian, selain komoditas padi, kelapa, cengkeh, pisang, jeruk dan hasil ternak, yang memiliki prospek untuk dikembangkan agroindustrinya (Balitbang). Jagung MEDIAGRO 29 VOL. 9. NO 1. 2013. HAL 29 - 39 Awami N.A, dkk Analisis Usaha… tidak hanya digunakan untuk bahan pangan tetapi juga untuk pakan. Dalam beberapa tahun terakhir proporsi penggunaan jagung oleh industri pakan telah mencapai 50 persen dari total kebutuhan nasional. Penggunaan jagung untuk pakan diperkirakan terus meningkat, dan bahkan setelah tahun 2020 lebih dari 60 persen dari total kebutuhan nasional baik untuk pangan maupun pakan dan bahan baku industri (Ishaq, 2010). Kabupaten Grobogan sebagai daerah terluas kedua di Propinsi Jawa Tengah merupakan salah satu sentra penghasil jagung di Jawa Tengah. Disamping produksi padi, produksi palawija di Kabupaten Grobogan juga merupakan penyumbang terbesar produksi palawija di propinsi Jawa Tengah. Jagung, kedelai, dan kacang hijau, merupakan produk andalan di Kabupaten Grobogan. Kabupaten Grobogan mampu memproduksi jagung sekitar 699.000 ton setiap tahunnya dan mampu memberikan kontribusi terhadap Jawa Tengah sebesar 22,89 persen. Pada tahun 2010 Kabupaten Grobogan menghasilkan 708.013 ton jagung dari luas panen 131.103 hektar (Statistik Kabupaten Grobogan, 2011). Produksi jagung tersebut digunakan untuk menyuplai kebutuhan dalam daerah sendiri dan sebagian ke luar daerah Grobogan. Jagung sebagai salah satu komoditas yang potensial untuk diolah menjadi bahan pangan dan bahan baku industri, maka penanganan jagung setelah panen perlu mendapat perhatian. Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah komoditas jagung secara vertikal adalah mengembangkan agroindustri pedesaan. Melalui pengembangan agroindustri jagung pedesaan, sebagian nilai tambah usaha yang selama ini dinikmati oleh perusahaan besar dari kegiatan pengolahan hasil akan bergeser kepada petani (Ishaq, 2010). Data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Grobogan menyebutkan bahwa di Kabupaten Grobogan sudah dilakukan penerapan teknologi penanganan panen dan pascapanen jagung, yang berfungsi meningkatkan mutu produk primer jagung, juga merupakan upaya untuk

Recently converted files (publicly available):