• Document: Kemampuan MOL (Mikroorganisme Lokal) Pada Proses Pengomposan di Dalam Lubang Resapan Biopori ABSTRAK
  • Size: 445.44 KB
  • Uploaded: 2019-05-17 14:43:17
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

Jurnal Kesehatan p-ISSN 1907-6401 Volume 9 Nomor 1 Bulan Mei 2017 Kemampuan MOL (Mikroorganisme Lokal) Pada Proses Pengomposan di Dalam Lubang Resapan Biopori Dwi Wahyu Purwiningsih1, Purnama Sidebang1, Siti Jubaida Lutia1 1 : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Ternate dwiwahyu_purwiningsih@ymail.com ABSTRAK Latar Belakang: Sampah masih menjadi masalah di kota-kota yang ada di Indonesia tidak terkecuali di kota Ternate, timbulan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat kota Ternate yang diangkut ke TPA yaitu 226 m3/hari, dengan tingkat pelayanan 57% dari total masyarakat Kota Ternate (BPS, 2015). Alternatif pengelolaan sampah yang baik untuk menghadapi permasalahan ini salah satunya dengan menggunakan teknologi tepat guna. Salah satu teknologi tepat guna yang dapat diterapkan yaitu dengan menggunakan Lubang Resapan Biopori (LRB). Manfaat Penelitian: Memberikan manfaat untuk ilmu pengetahuan dan dapat meningkatkan kesehatan lingkungan. Lokasi Penelitian: di Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Ternate. Metode Penelitian : Jenis penelitian experimental dengan menggunakan rancangan Posstest Only Control Design. Pengolahan dan penyajian data dalam penelitian ini adalah jumlah kompos yang dihasilkan dari proses pengomposan ditimbang dan dibedakan sesuai dengan jenis sampah dan MOL kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan dinarasikan. Hasil Penelitian: Menunjukkan MOL yang paling banyak menghasilkan kompos adalah MOL Tape Ubi dengan jenis sampah daun kering yaitu 85% dan yang paling sedikit adalah MOL Terasi dengan jenis sampah daun mentah yaitu 40% selama 20 hari. Kesimpulan: Rata-rata jumlah kompos yang paling banyak dihasilkan berturut-turut adalah dengan menggunakan MOL Tape Ubi, MOL Nanas, MOL Terasi dan kontrol. Kata Kunci: Sampah, Pengomposan, Lubang Resapan Biopori PENDAHULUAN Sampah masih menjadi masalah di Indonesia karena pelayanan yang dilakukan saat ini masih relatif terbatas. Kota Ternate merupakan salah satu kota kecil yang berada di Provinsi Maluku Utara. Kota Ternate terdiri dari 6 kecamatan yaitu Kecamatan Ternate Utara, Ternate Selatan, Ternate Tengah, Pulau Ternate, Pulau Moti dan pulau Batang Dua, dengan total luas wilayah 5.709,58 km2 dengan jumlah penduduk 207.789 jiwa dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Timbunan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Kota Ternate yang diangkut ke TPA yaitu 226 m3/hari, dengan tingkat pelayanan 57% dari total masyarakat Kota Ternate. Untuk mengatasi peningkatan volume sampah, selain pihak Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam hal ini Dinas Kebersihan Kota Ternate perlu ada upaya alternatif lain yang dilakukan oleh masyarakat. Alternatif pengelolaan sampah yang lebih baik untuk menghadapi permasalahan ini, salah satunya dengan menggunakan teknologi tepat 1 | http://ejournal.poltekkesternate.ac.id/index.php/juke Jurnal Kesehatan p-ISSN 1907-6401 Volume 9 Nomor 1 Bulan Mei 2017 guna, salah satu teknologinya yaitu menggunakan Lubang Resapan Biopori (LRB). Lubang resapan biopori "diaktifkan" dengan memberikan sampah organik kedalamnya. Sampah ini akan dijadikan sebagai sumber energi bagi organisme tanah untuk melakukan kegiatannya melalui proses dekomposisi. Sampah yang telah didekomposisi ini dikenal sebagai kompos. Kompos dapat dipanen pada setiap periode tertentu dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada berbagai jenis tanaman, seperti tanaman hias, sayuran, dan jenis tanaman lainnya. Selain mengolah sampah organik menjadi kompos, Lubang Resapan Biopori juga dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam meresapkan air hujan. Saluran dan lubang dalam sistem peresapan biopori digunakan sebagai simpanan dalam menampung dan meresapkan air tanah. Lubang diisi dengan sampah organik untuk memicu terbentuknya biopori. Biopori adalah pori-pori berbentuk lubang (terowongan kecil) yang dibuat oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman. Dalam mempercepat proses pengomposan, ada beberapa bahan dekomposer yang dipakai, misalnya dengan menggunakan MOL dan salah satunya yaitu EM4 (Effevtive microorganism 4), dalam penelitian yg dilakukan oleh Yuniwati (2010) di dapatkan hasil pembuatan kompos dengan bantuan EM4 adalah 3 hari dengan kualitas kompos yang dihasilkan memenuhi standar kualitas kompos seperti diatur dalam Peraturan Mentan No 2/Pert/HK.060/2/2006. Dengan menggunakan kondisi proses optimal (konsentrasi EM4 0,5 % suhu proses 40 derajat Celcius, ukuran bahan 0,0356 cm dan konsentrasi gula 0,8 %. Pada proses pengomposan bahan baku yang digunakan tidak dapat mempengaruhi rasio C/N, penelitian yang dilakukan oleh Widarti (2015) di dapatkan hasil jenis sampah yang dipakai yaitu kubis dan kulit pisang serta dicampurkan dengan kotoran sapi menunjukkan tidak ada pengaruh karena 3 variasi rasio C/N bahan baku yang digunakan masih mendekati range 20-30. Praktek pengomposan yang dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan pada bulan Ma

Recently converted files (publicly available):