• Document: PERBAIKAN CITRA SIDIK JARI DENGAN MENGGUNAKAN PROSES RIDGE REGRESSION
  • Size: 574.93 KB
  • Uploaded: 2019-05-17 15:10:39
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

PERBAIKAN CITRA SIDIK JARI DENGAN MENGGUNAKAN PROSES RIDGE REGRESSION Muhammad Kusban Staf Pengajar T. Elektro Universitas Muhammadiyah Surakarta E-mail: muhammadkusban@gmail.com Abstrak Teknologi digital dewasa ini memungkinkan dimanipulasinya citra yang terdistorsi sehingga dihasilkan bentuk yang lebih baik. Dalam dunia kedokteran sering menggunakan hasil rontgen atau sinar-X untuk memphoto kondisi tubuh pasien. Dalam bidang keamanan forensik dan keamanan data komputer banyak menggunakan hasil scan sidik jari yang digunakan sebagai identitas diri. Hasil citra digital dari kedua proses tersebut berada dalam bentuk skala keabuan yang seringkali tidak fokus, sehingga hasilnya menjadi kabur dan terdistori. Penelitian ini ditekankan pada perbaikan citra digital sidik jari, sehingga diharapkan keluaran citra menjadi lebih jelas secara visual serta upaya menghilangkan pola garis dalam sidik jari yang menumpuk satu dengan lainnya, disamping mengurangi noise (derau) yang terjadi saat pengambilan citra digital berlangsung. Metode yang digunakan meliputi penggunaan algoritma powerlaw dengan nilai gamma sebesar 0.53 dan konstanta 1. Selanjutnya dengan menggunakan proses konvolusi ridge regression untuk mendapatkan nilai deret yang sambung menyambung satu sama lainnya seperti yang ada dalam garis pola sidik jari, guna mempertegas prediksi nilai yang akan terjadi sehingga saat pola garis rusak akan dapat diperbaiki. Dari penelitian yang dilakukan, Hasil rata-rata dari beragam citra sidik jari dengan luasan 312.42 x 247.08 diperoleh nilai untuk SNR sebesar 4.34 dB dan PSNR sebesar 1.23 dB dengan waktu proses yang diperlukan sebesar 2.87 detik. Kata Kunci: powerlaw, garis pola, konstanta gamma, ridge regression, SNR, PSNR PENDAHULUAN Deteksi sidik jari masih merupakan metode ampuh untuk identifikasi orang dari kecil hingga tua yang memiliki pola sama disamping pertimbangan kepraktisan dan ekonomis. Pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang paling akurat serta paling tinggi ketepatannya dibandingkan dengan metode lainnya dalam menentukan identitas setiap orang [1]. Saat ini sidik jari masih merupakan bentuk identifikasi yang paling teliti yang digunakan oleh Kepolisian Republik Indonesia [2]. Berbeda dengan identifikasi yang berupa tanda tangan yang sering kali berubah bentuk. Hasil scan citra sidik jari memiliki banyak kelemahan bila dijadikan sumber utama rujukan identifikasi, yaitu bentuk asal citra yang kecil serta noise kerut pola yang ada di dalamnya. Disamping itu adanya garis antar pola yang menyatu satu sama lainnya, dan yang paling umum adalah adanya bagian yang terang/gelap yang menyebabkan citra sidik jari sulit dikenali. Untuk mengatasinya, salah satu metode yang digunakan adalah dengan memperbaiki citra digital dengan metode regresi ridge (ridge regression), yaitu metode dengan menjadikan citra digital tersebut memiliki nilai yang tegas diantara piksel yang berdampingan karena adanya perbedaan tajam akan kecerahan hasil scan. Keuntungan lainnya adalah metode ini dapat digunakan pula untuk menyambung garis pola yang terputus. Perbedaan kecerahan dalam citra dapat disetel nilai kekontrasan yang dikehendaki sehingga terang dan gelap sesuai dengan indera penglihatan (bersifat subjektif). Proses demikian dapat terwujud saat menggunakan proses aplikasi powerlaw dengan nilai konstanta dan gamma yang tepat. Citra sidik jari dalam ukuran dan kondisi normal secara umum tidak dapat dilihat secara langsung dengan mata telanjang sehingga sering disebut juga dengan sidik jari laten. Sedangkan dalam kehidupan nyata, penemuan sidik jari laten pada barang bukti merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam identifikasi tindak pindana, karena secara umum sidik jari merupakan bukti fisik yang paling kuat yang dapat dipaparkan di pengadilan. Pada saat digunakan sebagai sarana identifikasi, V-42 Proceeding Seminar Nasional Teknik & Manajemen Industri 2013 | UMM sidik jari memiliki tiga ciri yang akan menjadikan citra sidik jari tersebut memiliki batas kesamaan secara umum yang sama di tiap negara, yaitu: a. Sidik jari bersifat unik, karena tidak ada yang sama sidik jari setiap orang diseluruh dunia meskipun orang kembar sekalipun. b. Sidik jari bersifat tidak varian, yaitu rincian pola sidik jari tidak berubah sepanjang hidup. Seseorang hanya berubah ukuran besarnya karena mengikuti pertumbuhan individu. c. Sidik jari memiliki pola umum yang dapat diklasifikasikan secara sistematis sehingga dapat menggolongkan individu sesuai pola umum yang ada dalam sidik jari tersebut. Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan untuk membantu penyidik menentukan identitas tiap orang, karena bila salah dalam menganalisa identitas akan barakibat fatal dalam proses peradilan. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki tampilan citra digital dari sidik jari untuk dapat tertampil lebih baik secara visual dengan mata telanj

Recently converted files (publicly available):