• Document: MOLEKUL PENGENAL ANTIGEN
  • Size: 247.59 KB
  • Uploaded: 2019-03-24 06:07:31
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

BAB 2 MOLEKUL PENGENAL ANTIGEN 2.1. Molekul Reseptor Antigen Sel T helper dan sitolitik, tidak seperti sel B, mengenal fragmen antigen protein asing yang secara fisik berikatan dengan molekul MHC pada permukaan sel APC atau sel target. Pengenalan antigen oleh sel T, merupakan awal stimulasi untuk aktivasi sel T. Dalam sel yang berbeda, aktivasi menyebabkan sekresi sitokin, proliferasi, dan penampakkan fungsi efektor regulator dan sitolitik. Akhir-akhir ini, elusidasi struktur dan fungsi molekul yang terlibat pengenalan antigen oleh sel T adalah salah satu hal yang penting dalam bidang imunologi. Hal ini merupakan pengetahuan yang relatif bam, yang membicarakan dasar molekuler untuk studi respon imun normal dan patologik, dimana sel T mempunyai peran utama. Reseptor pada sel T yang bertanggung jawab untuk pengenalan dan respon spesifik yang tinggi terhadap antigen ditambah MHC merupakan suatu kompleks dari beberapa protein integral membran plasma. Beberapa protein dari kompleks ini memperantarai ikatan spesifik ke kompleks antigen-MHC pada permukaan sel APC atau sel target, dan maka dari itu porsi pengikatan protein- protein ini dibedakan antara sel T dengan spesifisitas antigen-MHC yang berbeda. Protein dalam kompleks tidak bervariasi diantara semua sel T, dan mungkin fungsi dalam transduksi signal ke dalam interior sel T. Disamping reseptor antigen plus MHC, sel T mengekspresikan sejumlah protein permukaan sel yang lain, yang dinamakan molekul asesori. Molekul ini penting untuk kognitif, aktivasi, dan fase efektor respon sel T. Fungsi beberapa asesori molekul ini adalah untuk menguatkan adesi sel T ke sel lainnya, yang mempromosi maksimal efektif interaksi antara sel T helper dengan APC atau antara sel T sitolitik dengan sel target. Kepentingan dimasa yang akan datang untuk studi resseptor sel T, adalah pengembangan teknologi propagasi populasi sel T monoklonal secara in vitro, termasuk hibridoma T-T dan klon permukaan sel T. Karena reseptor sel T belum dapat dikristalkan, struktur tiga dimensi, hanya dapat diambil dari urutan homologis dengan molekul antibodi dan kita sudah mengetahui struktur tiga dimensi Ig dan molekul MHC. Molekul asesori pada sel T 1. CD4 dan CDS, glikoprotein permukaan sel T yang diekspresikan subset sel T dewasa dengan pola yang dibedakan dengan restriksi MHC. CD4 dan CD 8 berfiingsi sebagai sel asesori dengan memfalisitasi interaksi sel T dengan sel APC aatau sel target. Kedua molekul merupakan anggota Ig gena superfamili, tetapi tidak lagi berhubungan dengan anggota yang lain. Mereka mempunyai fungsi yang sangat mirip. Lebih kurang 65% sel T periferal ap-positif mengekspresikan CD4 dan 35% mengekspresikan CDS. (Rasio yang berubah, seringkali digunakan sebagai parameter klinik untuk disfungsi imun. 2. CD2 Protein CD2 juga disebut Til, LFA-2, Leu-5, Tp50, reseptor sel darah merah domba (SRBC), adalah glikoprotein dengan BM 45-50 kD yang terdapat pada lebih dari 90% sel T dan 50-70% pada timosit. Juga ada pada sel NK. Fungsi CD2 sebagai molekul adesi interseluler, juga merupakan molekul transduksi signal. 3. LFA-1 Juga sebagai molekul transduksi signal, diekspresikan pada hampir semua sel yang diturunkan dari sumsum tulang, lebih dari 90% timosit dan sel T matur, sel B, PMN, dan monosit. Sel asesori yang lainnya : VIA, CD28, CD44, CD45, CDS, Thy-1 dan Ly-6. 2.2. Kompicks Histokom patibilitas Mayor (Major Histocompatibility Complex = MHC) MHC adalah suatu kelompok gena yang menghasilkan marker permukaan sel, yang sangat penting dalam transplantasi, regulasi imun, dan respon imun. Marker permukaan sel ini digunakan untuk membedakan antigen self dari non-self . Perbedaan ini memungkinkan terjadinya respon imun terhadap antigen non-self yang sesuai, sekaligus mencegah terjadinya respon imun terhadap antigen self. MHC perlu diperhitungkan dengan diketahuinya bahwa semua spesies mamalia mempunyai MHC. Dari beberapa pengamatan yang dilakukan, diketahui bahwa transplantasi jaringan dari satu individu ke individu lain jarang yang berhasil. Ternyata hal ini diketahui karena adanya perbedaan genetik diantara individu, dan respon imun menolak jaringan yang ditransplantasikan. Dalam tahun 1950 an dilakukan penelitian bahwa sera, dari pasien yang sudah menerima beberapa kali transfusi mengandung leukoaglutinin yang dapat membuat leukosit menjadi kaku. Pada akhirnya diketahui, ketika dilakukan karakterisasi sera dari wanita yang telah beberapa kali hamil (multipara), bahwa leukoaglutinin sebenarnya adalah antibodi terhadap leukosit. Karena antibodi tersebut mampu untuk mengaglutinasi leukosit, maka antigen tadi disebut human leukocyte antigen (HLA). Pada penelitian-penelitian selanjutnya dapat diketahui bahwa antibodi tersebut dapat bereaksi dengan sel yang berasal dari berbagai individu, sehingga diduga antigen yang bereaksi dengan antibodi

Recently converted files (publicly available):