• Document: PETUNJUK TEKNIS PENGOMPOSAN LIMBAH ORGANIK DENGAN MENGGUNAKAN BIOAKTIVATOR SUPERDEC DAN ORGADEC
  • Size: 621.42 KB
  • Uploaded: 2019-05-17 14:51:11
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

PETUNJUK TEKNIS PENGOMPOSAN LIMBAH ORGANIK DENGAN MENGGUNAKAN BIOAKTIVATOR SUPERDEC DAN ORGADEC Petunjuk Teknis Pembuatan Kompos LIMBAH PADAT ORGANIK PERKEBUNAN TEBU DAN KELOMPOK GRAMINEAE LAINNYA dengan Bioaktivator SUPERDEC. Bioaktivator adalah biang yang mengandung mikrob untuk pembuatan kompos secara cepat dan dalam jumlah/volume yang besar dari limbah perkebunan dan pertanian. Mikrob yang terkandung di dalam Bioaktivator SuperDec terdiri dari Trichoderma pseudokoningii, Trichoderma sp, dan Phanerochaete chrysosporium. Mikrob tersebut secara bersamaan mempunyai kemampuan yang tinggi menghasilkan enzim yang dapat menguraikan lignin dan selulosa secara sinergik dari limbah padat organik famili gramineae. Produk akhir dari proses penguraian (pengomposan) ini berupa air dan karbondioksida. Penggunaan bioaktivator diharapkan mampu memperpendek masa pengomposan. Penerapan sistem pengomposan secara bioaktif memiliki peluang teknis dan ekonomis yang cukup memadai dalam hubungannya dengan usaha efisiensi penggunaan pupuk kimia sintetik, pengendalian limbah padat organik, dan peningkatan daya dukung lahan perkebunan, pertanian, dan pasca tambang. 1. Alat bantu proses pengomposan dan produksi kompos blotong : a. Mesin Pencacah : Kapasitas 8 ton/jam b. Bioaktivator : Phanerochaete chrysosporium, Trichoderma sp. (2 spesies) c. Pembentukan CP : mini loader d. Sistem pengadukan kompos : backhus e. Alat untuk menyiram tumpukan bahan baku yang akan dikomposkan. f. Termometer kaca (batang/tongkat) untuk mengamati perubahan suhu lingkungan dan suhu kompos selama proses pengomposan berlangsung. g. Meteran untuk mengukur penyusutan volume bahan selama pengomposan berlangsung. h. Perlengkapan K3 (sarung tangan, masker, dan sepatu boots). 2. Persiapan bahan kompos Bahan organik segar dicacah dengan menggunakan mesin pencacah, sehingga diperoleh hasil cacahan dengan ukuran 2.5-5.0 cm. Volume bahan organik segar yang akan dikomposkan sekitar 50 m3 (± 5.000 kg) per satu tumpukan (Composting Pile). Untuk membentuk satu composting pile (CP) dengan ukuran berat dan volume tersebut diperlukan alat bantu berupa forklift atau paver. Dilakukan pengadukan secara merata terhadap bahan organik dan bioaktivator. Setelah terbentuk satu composting pile (CP) yang relatif padat, CP ditutup dengan lembaran terpal untuk menjaga kelembaban bahan baku dan untuk mempercepat naiknya suhu kompos selama proses pengomposan berlangsung. Selanjutnya CP didiamkan selama 7-14 hari tanpa diperlukan pengadukan. Kadar air tumpukan bahan kompos selama proses pengomposan diupayakan berkisar 60–70% dengan mengatur jumlah limbah cair yang ditambahkan. 3. Proses pencampuran bahan baku dengan bioaktivator Dosis bioaktivator yang digunakan adalah 10 kg untuk setiap 1 ton bahan baku limbah organik segar. Pada tahap awal, sebanyak 10 kg bioaktivator dicampur 1 merata dengan 10% dari total bahan baku yang telah dicacah dengan ukuran 2.5- 5.0 cm. Apabila 10% dari total bahan baku dan bioaktivator sudah tercampur secara merata, maka campuran bahan ini ditambahkan ke tumpukan bahan baku utama yang akan dikomposkan. Pengadukan dilakukan kembali sampai diperoleh campuran yang homogen. 4. Hal-hal yang perlu diperhatikan Ketinggian tumpukan bahan yang akan dikomposkan diusahakan mencapai 1.5 m agar diperoleh panas yang cukup tinggi untuk berlangsungnya proses pengomposan serta memudahkan untuk melihat tingginya penyusutan selama proses pengomposan berlangsung. Hasil cacahan berupa potongan bahan segar berukuran 2.5-5.0 cm. Cacahan ini selanjutnya ditumpuk membentuk satu composting pile di atas lantai yang dipadatkan. Composting pile (CP) dibuat tanpa atap tetapi dengan menggunakan penutup terpal. Antar composting pile dibuat saluran pembuangan air untuk menghindari genangan air berlebih yang dibentuk dari hasil proses pengomposan ataupun air hujan. Panjang CP ini dapat disesuaikan dengan luas rumah pengomposan ( composting house) yang tersedia atau alur areal pengomposan di lapangan terbuka. Selanjutnya CP (bahan segar plus bioaktivator sesuai dosis anjuran) ditutup dengan lembaran terpal dan diinkubasi selama 7-14 hari tanpa pengadukan. Setelah 7-14 hari kompos dipanen dan dikeringkan dengan dryer pada suhu 80– 100oC, dihaluskan menggunakan hammer mill. Setelah melalui alat penyaring (screen) selanjutnya dapat dikemas menjadi kompos curah atau diproses lebih lanjut menggunakan binding agent menjadi pupuk organik granular. 5. Parameter pengamatan Parameter yang dapat diamati sebagai petunjuk kesempurnaan proses pengomposan, antara lain adalah : a. Selama proses pengomposan berlangsung, mulai dari hari pertama secara bertahap suhu pengomposan meningkat lebih tinggi daripada suhu lingkungan. Pengomposan dianggap selesai apabila pada akhir pengomposan suhu kompos turun hingga mendekati suhu awal yang teramati. Pengamatan ini dapat dilakukan setiap hari dengan te

Recently converted files (publicly available):