• Document: REKAYASA PROSES PRODUKSI HIDROLISAT DARI AMPAS SAGU SEBAGAI SUBSTRAT UNTUK PEMBUATAN BIOETANOL ALFI ASBEN
  • Size: 1.29 MB
  • Uploaded: 2019-05-17 17:29:21
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

REKAYASA PROSES PRODUKSI HIDROLISAT DARI AMPAS SAGU SEBAGAI SUBSTRAT UNTUK PEMBUATAN BIOETANOL ALFI ASBEN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 2 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Rekayasa Proses Produksi Hidrolisat Dari Ampas Sagu Sebagai Substrat Untuk Pembuatan Bioetanol adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini. Bogor, November 2012 Alfi Asben NRP. F361070041 4 ABSTRACT ALFI ASBEN. Process Engineering of Hydrolysate Production from Sago Hampas as Substrate for Bioethanol Production. Under direction of TUN TEDJA IRAWADI, KHASWAR SYAMSU, and NADIRMAN HASKA Sago hampas is one abundant biomass available in Indonesia, because Indonesia has more than half (56.5%) of world sago forest. The research objective was to obtain a high sugar hydrolysate from sago hampas, as a substrate for production of bioethanol. The study was done in four phases: 1) Analysis of sago hampas biomass and its pretreatment, 2) Hydrolysis of sago hampas starch using hydrothermal enzymatic method and using 0.25 M H2SO4 solution as a comparison, 3) Conversion of sago hampas cellulose into glucose using Trichoderma reesei, and 4) Application of hydrolysate from sago hampas for bioethanol production and its added value analysis. Results showed that the largest contain of sago hampas was starch followed by cellulose. Pretreatment of sago hampas using distilled water at 115 oC for 15 minutes gave the highest starch content of 17.98 g/L (the yield of 87.24%). In the other hand, treatment with 0.25 M H2SO4 at 115 oC for 15 minutes gave the highest total sugar at 20.23 g/L in the extract (88.16% conversion factor). Sago hampas starch in extract was then converted by enzymatic method to sugar with the highest dextrose equivalent result of 86.56%. Conversion of sago hampas cellulose into glucose was carried out by Trichoderma reesei in Erlenmeyer flask using water bath shaker, resulting in 0.3 g/L glucose. Glucose produced seems to be repressor for further cellulase production, which is known as glucose effect. Bioethanol concentration obtained from sugar hydrolysate using hydrothermal enzymatic method was slightly higher compared to bioetanol concentration obtained using 0.25 M H2SO4 method, i.e 2.82% and 2.65% respectively. Added value obtained from sago hampas hydrolysate production using hydrothermal enzymatic method with cellulose residue as by-product was about Rp. 444.79 for each kg of output with 41.54% of added value ratio. Production factor compensation for businnes owner, worker and other input price were 41.06%, 7.25% and 51.69% respectively. Keywords: Sago hampas, starch, cellulose, hydrothermal enzymatic, hydrolysate, bioethanol, added value 6 RINGKASAN ALFI ASBEN. Rekayasa Proses Produksi Hidrolisat Dari Ampas Sagu Sebagai Substrat Untuk Pembuatan Bioetanol. Dibimbing oleh TUN TEDJA IRAWADI, KHASWAR SYAMSU, dan NADIRMAN HASKA Indonesia memiliki areal sagu terbesar yaitu sekitar 56.5% dari total areal sagu dunia. Pengolahan pati sagu menghasilkan limbah padat sagu, terutama berupa ampas sagu. Limbah hasil pengolahan pati sagu yang banyak mencemari air dan tanah ini belum dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan limbah sagu dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Biomassa ampas sagu merupakan bahan baku yang menjanjikan karena tersedia melimpah, murah, dan mempunyai potensi secara kuantitas yang luar biasa. Pengujian mikroskopik menggambarkan sejumlah besar pati terperangkap dalam matrik lignoselulosa ampas sagu. Ampas sagu adalah hasil samping berupa lignoselulosa berpati yang diperoleh dalam proses pengolahan pati dari pohon sagu (Metroxylon sagu Rottb). Agar didapat suatu nilai tambah yang tinggi, diperlukan teknologi pemanfaatan limbah biomassa ampas sagu menjadi produk yang lebih bervariatif dan memberi manfaat yang lebih luas, salah satunya dengan mengkonversinya menjadi hidrolisat yang mengandungan gula. Hidrolisat dari ampas sagu ini dapat dipromosikan sebagai bahan baku produksi bioetanol. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hidrolisat dari ampas sagu dengan kandungan gula yang tinggi sebagai substrat untuk produksi bioetanol. Penelitian dilaksanakan dalam empat tahap penelitian utama. Penelitian tahap pertama terdiri dari dua tahapan penelitian yaitu: 1) Analisis komponen ampas sagu. 2) Perlakuan awal (pretreatment) ampas sagu untuk mendapatkan eks

Recently converted files (publicly available):