• Document: BUDAYA, PARIWISATA DAN ETHNO-ECOTOURISM: KAJIAN ANTROPOLOGI PARIWISATA DI PROVINSI LAMPUNG. Oleh. Bartoven Vivit Nurdin *)
  • Size: 124.98 KB
  • Uploaded: 2019-05-17 16:26:43
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

BUDAYA, PARIWISATA DAN ETHNO-ECOTOURISM: KAJIAN ANTROPOLOGI PARIWISATA DI PROVINSI LAMPUNG Oleh Bartoven Vivit Nurdin*) *) Staf Pengajar Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Lampung ABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji antropologi pariwisata dan membangun sebuah model ethno-ecotourism yang berbasiskan pada potensi kearifan lokal untuk pengembangan pariwisata berbasiskan budaya lokal di Provinsi Lampung. Kajian –kajian pariwisata selama ini banyak didominasi oleh perspektif bidang ilmu fisik dan ekonomi, padahal kegagalan pariwisata selama ini adalah ada pada kurangnya kajian sosial-budaya yang menekankan pada aspek manusia dalam pengembangan pariwisata. Sehingga tulisan ini mencoba menganalisis secara teoritis hubungan kebudayaan, manusia dan pariwisata dalam bidang antropologi. Lampung memiliki potensi sumber daya alam yang berlimpah untuk pengembangan pariwisata. Selama ini strategi pembangunan pengembangan pariwisata hanya mengandalkan potensi alam dan selalu menjagokan potensi fisik, insfrastruktur dan potensi sumber daya alam, tetapi tidak melibatkan faktor manusianya. Metode penelitian yang dilakukan adalah pendekatan etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun potensi sumber daya alam sangat memiliki nilai jual pariwisata yang tinggi, namun tanpa diiringi oleh perubahan perilaku manusia tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu model ethno-ecotourism berbasiskan kearifan lokal ini sangat relevan bagi pembangunan pariwisata di Provinsi Lampung, karena selama ini pengembangan wisata belum terlaksana secara maksimal. Kebijakan pembangunan pariwisata harus melakukan pendekatan holistik, karena pembangunan manusia sangat menentukan kemajuan sebuah pariwisata. Disamping itu Lampung, memiliki kearifan lokal yang sangat potensial dalam mengembangkan pariwisata. Kata kunci: Budaya, pariwisata, ethno-ecotourism, antropologi pariwisata Pendahuluan Selama ini pengembangan pariwisata di Indonesia lebih dominan berbasiskan sumber daya alam, dan mengundang investor untuk melakukan membangun bisnis wisata. Namun, bisnis wisata ini seringkali hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja dan meminggirkan masyarakat lokal setempat. Lebih buruk lagi, masyarakat lokal dianggap sebagai penghambat pembangunan. Dalam pembangunan pariwisata selama ini memiliki dampak buruk bagi masyarakat lokal, yakni meminggirkan mereka dalam kehidupan sosial budaya dan ekonomi. Masyarakat lokal seringkali tidak dilibatkan potensinya untuk pengembangan wisata. Bali, adalah salah satu contoh khusus dan sangat maju dalam hal Jurnal Sosiologi, Vol. 18, No. 1: 13-19 13 pariwisata, disana bahwa masyarakat lokal berperan dalam pembangunan pariwisata. Namun, pariwsata di Indonesia tidak hanya Bali. Banyak tempat lain yang tidak kalah indahnya dengan Bali, namun pembangunan pariwisatanya seringkali mengalami kemunduran dan bahkan gagal. Dilain pihak, ada juga kasus dimana masyarakat lokal menolak pembangunan pariwisatanya. Sehingga tidak heran disuatu tempat di Indonesia dengan sumber daya alam yang tidak kalah indah daripada Bali, tetapi pembangunan pariwisatanya tidak berkembang. Banyak antropolog menganalisis bahwa ini disebabkan oleh faktor manusia. Masyarakat lokal sama sekali tidak mendukung kegiatan pariwisata. Bahkan banyak kasus kriminal seperti pencurian dan pemalakan (meminta uang dengan illegal), yang membuat turis tidak nyaman, dilakukan oleh masyarakat lokal. Pada tahun 2009, Verner dalam Responsible Enbreve Tourims series World Bank sudah mengkaji bahwa masyarakat lokal (indigenious people) bukan lagi suatu hambatan bagi pengembangan pariwisata atau bukan lagi memberikan dampak buruk bagi pariwisata, sebaliknya masyarakat lokal dan masyarakat adat dapat memperoleh keuntungan dari kegiatan pariwsata. Bahkan masyarakat Adat dapat berpartisipasi dalam penyusunan perencanaan, pelaksanaan, dan kelanjutan pariwisata. Sebagai contoh di Amazona, terdapat masyarakat Tikuna yang sangat ahli dalam pengembangan ethnobotany. Seorang ahli Botani dari Columbia melibatkan komunitas Tikuna dalam memonitoring dampak pencemaran sungai dan membangun Amacau National Park di Columbia dengan dibantu oleh komunitas Tikuna. Taman itu kemudian menjadi taman kunjungan wisatawan, yang ramai dikunjungi turis. Telah 20 tahun taman Amacau National Park dibangun dengan bantuan dari komunitas Tikuna. Ini adalah salah satu contoh keberhasilan sebuah pembangunan pariwisata etnobotani yang dipelopori kolaborasi oleh ahli botani dan komunitas Tikuna ( Indigenous People), yang kemudian mendatangkan banyak turis. Oleh karena itu Verner mengembangkan model eco dan ethno tourism sebagai basis pembangunan pariwisata (Verner, 2009). Pariwisata di Lampung memang sedang berkembang. Mulai dari pariwisata kota yang modern dengan pertumbuhan mall-mall yang mewah, sampai kepada pariwisata alam yang Indah. Lampung adala

Recently converted files (publicly available):