• Document: SISTEM. PERTUKARAN RUJUKAN SijariEMAS. Perbaikan sistem rujukan untuk kegawatdaruratan ibu dan bayi di Indonesia
  • Size: 1.75 MB
  • Uploaded: 2019-03-24 07:59:17
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

SISTEM PERTUKARAN RUJUKAN SijariEMAS Perbaikan sistem rujukan untuk kegawatdaruratan ibu dan bayi di Indonesia LAPORAN TEKNIS JULI 2015 DAFTAR ISI LATAR BELAKANG......................................................................................................................................... 1 STRATEGI RUJUKAN..................................................................................................................................... 3 SijariEMAS......................................................................................................................................................... 4 PELAKSANAAN......................................................................................................................... 11 HASIL.......................................................................................................................................... 17 PELAJARAN............................................................................................................................... 23 LAMPIRAN................................................................................................................................. 25 a. LAMPIRAN A: Persyaratan Perlengkapan SijariEMAS berdasarkan Model b. LAMPIRAN B: Biaya Implementasi Perlengkapan dan Infrastruktur Sampel c. LAMPIRAN C: Catatan akhir LATAR BELAKANG Walau Indonesia telah membuat perbaikan yang tersebar luas dalam keselamatan ibu dan bayi baru lahir selama beberapa dekade terakhir, kematian ibu dan bayi baru lahir masih tinggi [1,2] Banyak dari kematian ini dapat dicegah dengan akses terhadap perawatan kegawatdaruratan medis yang berkualitas [3]. Rujukan yang efisien dan efektif untuk fasilitas kesehatan yang layak selama kegawatdaruratan – serta perbaikan kualitas perawatan selama kegawatdaruratan – merupakan kunci untuk mengurangi kematian ibu dan bayi. Sebagai negara yang secara geografis sangat luas dan banyak jumlah penduduknya, Indonesia memiliki sistem kesehatan yang mapan, terdesentralisasi dengan jejaring komunitas bidan, puskesmas dan rumah sakit yang luas. Pada tahun 1990-an, Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan masyarakat untuk mengatasi keterlambatan dalam mengenali kegawatdaruratan obstetri dan mengupayakan perawatan. Berbagai prakarsa ini telah diangkat ke tingkat nasional untuk meningkatkan kesadaran secara nasional tentang persiapan kelahiran dan kesiapan komplikasi (terkenal sebagai Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi atau P4K) serta untuk memobilisasi desa-desa dalam merespon kasus kegawatdaruratan secara cepat, dengan cara memberitahukan penyedia layanan kesehatan dan mengatur transportasi, donasi darah, dan dana medis (dikenal sebagai desa siaga) [4]. Namun, rujukan antara klinik kebidanan, puskesmas dan rumah sakit seringkali dikoordinasikan dan dikomunikasikan dengan buruk. Akibatnya, keterlambatan yang kritis terjadi selama rujukan kegawatdaruratan dan dalam penerimaan serta tindakan pasien rujukan [5]. Sejumlah isu yang membatasi efektivitas sistem rujukan telah ditemukan [5,6]: Perempuan seringkali dirujuk ke beberapa fasilitas kesehatan sebelum memperoleh tindakan yang seharusnya; rujukan dibuat ke fasilitas kesehatan yang tidak siap, tidak memiliki perlengkapan atau staf untuk menangani kegawatdaruratan; bidan tidak merujuk pasien dengan tepat, yang mungkin dikarenakan kurangnya pengetahuan kapan dan kemana membuat rujukan; pasien di puskesmas tidak distabilisasi dengan selayaknya sebelum mereka dirujuk; fasilitas kesehatan kekurangan protokol yang baku untuk menangani kegawatdaruratan dan membuat rujukan; serta rumah sakit dan puskesmas kekurangan koordinasi yang efektif dalam mengalokasikan dan mengerahkan berbagai sumber daya untuk menangani kegawatdaruratan ibu dan bayi baru lahir serta rujukan, juga melaksanakan berbagai kebijakan dan program untuk kegawatdaruratan. Pada tahun 2011, program EMAS (Expanding Maternal and Neonatal Survival) yang didanai USAID [7] diluncurkan bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk mengurangi kematian ibu dan bayi baru lahir. Selain memperbaiki kualitas perawatan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal di rumah sakit EMAS: SijariEMAS Technical Report, July 2015 Page |1 dan puskesmas, EMAS memperkuat sistem rujukan di antara fasilitas kesehatan. EMAS juga bertujuan untuk memperkuat akuntabilitas untuk peningkatan keselamatan ibu dan bayi melalui keterlibatan masyarakat madani. Sebelum EMAS, para bidan desa melaporkan bahwa mereka tidak berkomunikasi dengan RS sebelum membuat rujukan, karena mereka merasa RS akan mengatakan tidak ada ruangan dan menolak pasien [6]. EMAS: SijariEMAS Technical Report, July 2015 Page |2 STRATEGI RUJUKAN

Recently converted files (publicly available):