• Document: PENCEGAHAN INFEKSI SALURAN KEMIH AKIBAT KATETER Diane K. Newman, Robyn Strauss
  • Size: 195 KB
  • Uploaded: 2019-02-13 17:14:39
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

PENCEGAHAN INFEKSI SALURAN KEMIH AKIBAT KATETER Diane K. Newman, Robyn Strauss Abstrak Infeksi saluran kemih akibat kateter, infeksi didapat dari rumah sakit yang sering terjadi di seluruh dunia, memberikan dampak yang besar terhadap keselamatan pasien dan pemakaian antibiotik. Infeksi saluran kemih akibat kateter ini berhubungan dengan keadaan yang merugikan, seperti delirium, dan masa tinggal di rumah sakit yang lebih lama dan biaya perawatan medis yang lebih tinggi. Telah diperkirakan bahwa 65 sampai 70% dari kejadian infeksi saluran kemih akibat kateter (CAUTI) ini dapat dicegah dengan praktek berbasis bukti yang telah direkomendasikan. Untuk alasan tersebut, Centers for Medicare & Medicaid Services tidak lagi menggantikan perawatan akut dan rumah sakit rehabilitasi untuk biaya yang terkait dengan pengobatan infeksi ini, dan membuat tujuan nasional untuk mengurangi infeksi ini sebesar 25% pada tahun 2014. Banyak penjelasan literatur telah menunjukkan metode untuk melakukan praktik dan proses untuk mengurangi infeksi ini. Artikel ini akan memberikankan sinopsis dari praktek saat ini dan strategi pencegahan multimodal untuk infeksi saluran kemih akibat kateter. PENDAHULUAN Penanggulangan infeksi yang didapat dari rumah sakit (HAI) adalah aspek kunci dari inisiatif keselamatan pasien di banyak negara. Infeksi ini terutama disebabkan oleh instrumentasi pada kandung kemih. National Healthcare Safety Network (NHSN) Amerika Serikat melaporkan bahwa indwelling urinary catheters (IUC) digunakan pada hampir dua pertiga pasien di unit perawatan intensif, dan dalam sekitar seperlima dari jumlah pasien di unit medis-bedah umum. Pada pasien tua yang dilakukan rawat inap tanpa indikasi medis tertentu, IUC telah dikaitkan dengan risiko yang lebih besar terhadap kematian: 4 kali lebih besar selama rawat inap dan 2 kali lebih besar dalam waktu 90 hari setelah pulang. Saint dkk telah menjelaskan penggunaan kateter yang tidak seuai sebagai bentuk pengekangan fisik karena berhubungan dengan ketidaknyamanan yang mengarah pada imobilitas, yang menjadi penyebab ulkus akibat tekanan. Infeksi saluran kemih akibat kateter (CAUTI) menyebabkan biaya perawatan yang mahal, yang membuat kasus bisnis untuk pencegahan HAI ini menjadi komponen kunci dari program pengendalian biaya. Meskipun CAUTI digambarkan sebagai "tidak pernah terjadi," seperti " seharusnya tidak pernah terjadi," penyebabnya, IUC, masih umum digunakan dalam bidang perawatan akut. CAUTI dianggap sebagai infeksi komplikasi, karena mekanisme pertahanan host normal terganggu oleh adanya benda asing (kateter). Meskipun sering tanpa gejala, sekitar sepertiga pasien yang mengalami bakteriuria akibat kateter akan mengembangkan gejala CAUTI, terutama jika kateter tetap terpasang dalam jangka panjang (didefinisikan sebagai >30 hari). Lamanya waktu IUC tetap in situ secara langsung berkaitan dengan peningkatan CAUTI. Terapi antimikroba hanya efektif sementara jika kateter tetap dipasang. Meddings dan Saint menggambarkan suatu model konseptual untuk menguraikan "siklus" dari suatu IUC (Gambar 1). Setiap bagian dari siklus tersebut menggambarkan target tindak lanjut yang diawali dengan pemasangan kateter (1), berlanjut ketika kateter tetap in-situ (2), dapat dihentikan ketika kateter dilepas (3), tetapi pada banyak pasien akan berlanjut jika IUC lain kembali dipasang. Para penulis ini mencatat ada peluang untuk dilakukan suatu intervensi pada setiap tahap siklus tersebut. Selain lama waktu pemasangan IUC, ada faktor-faktor risiko lain yang dapat mengembangkan CAUTI, termasuk teknik pemasangan kateter yang tidak tepat, jenis kelamin perempuan, usia tua, sistem kekebalan tubuh yang kurang, dan kondisi komorbiditas (misalnya, diabetes, ginjal disfungsi). Faktor lain untuk pengembangan CAUTI adalah praktek asuhan keperawatan pengelolaan kateter yang tidak berbasis bukti. Prosedur seperti pembersihan meatus dengan antiseptik, kateter yang tidak terjamin, irigasi kateter, pelepasan kateter dari pipa drainase, dan lain-lain, secara rutin dilakukan oleh perawat, tidak didukung oleh penelitian berbasis bukti dan, dalam banyak kasus, telah ditunjukkan dapat berkontribusi terhadap pengembangan CAUTI. Fakta bahwa perawat tidak mengikuti praktik tertentu untuk mencegah CAUTI ditunjukkan dalam survei tentang pencegahan ISK yang didapat di rumah sakit dan infeksi perangkat terkait lainnya dibagikan pada rumah sakit nonfederal dan federal di AS. Pedoman (Guideline) Pencegahan CAUTI Pedoman terbaru, yang telah direvisi oleh CDC Healthcare Infection Control Practices Advisory Committee (HICPAC), adalah Pedoman Pencegahan CAUTI, dan memberikan rekomendasi yang diperbarui tentang penggunaan kateter dan pemeliharaan untuk mencegah ISK. Rekomendasi dalam pedoman ini juga dimasukkan dalam Pedoman Praktek Klinis Internasional Infectious Diseases Society of America. Pedoman CAUTI dari HICPAC dikembangkan melalui tinjauan sistematis bukti terbaik yang tersedia dan termasuk penelitian dan kemajuan teknologi baru untuk pencegahan CAUTI (Tabel 1). Pedoman

Recently converted files (publicly available):