• Document: PERBEDAAN FISIK DAN KIMIA KOMPOS DAUN YANG MENGGUNAKAN BIOAKTIVATOR MOL DAN EM 4
  • Size: 303.13 KB
  • Uploaded: 2019-05-17 14:49:20
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

PERBEDAAN FISIK DAN KIMIA KOMPOS DAUN YANG MENGGUNAKAN BIOAKTIVATOR MOL DAN EM4 Priyantini Widiyaningrum, Lisdiana Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang Email: wiwiedeka@yahoo.co.id Abstrak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan mikroorganisme lokal (MOL) sebagai aktivator dalam proses pengomposan sampah daun, serta membandingkan penampilan fisik, penyusutan bahan, kadar air dan C/N rasio kompos yang dihasilkan dengan kompos yang menggunakan EM4 sebagai bioaktivator. Bahan baku kompos terdiri dari daun kering cacah dan kotoran kambing. Kompos dipanen setelah proses pengomposan berlangsung selama 6 minggu. Setiap perlakuan dibuat tiga ulangan. Data kualitatif yang diamati meliputi tekstur, warna dan bau, sedangkan data kuantitatif yang diukur meliputi persentase penyusutan bahan, persentase kompos yang terbentuk, kadar air, dan C/N rasio. Analisis data kualitatif dilakukan secara deskriptif, sedangkan data kuantitatif menggunakan uji t. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kompos kedua perlakuan memiliki penampilan fisik tidak berbeda. Berdasarkan uji t, rata- rata penyusutan bahan, kadar air dan C/N rasio kompos matang tidak berbeda nyata, akan tetapi persentase kompos yang terbentuk menunjukkan perbedaan nyata. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa kompos daun kedua perlakuan memperlihatkan penampilan fisik, penyusutan, kadar air dan C/N rasio yang tidak berbeda, sedangkan persentase kompos yang terbentuk pada kompos + EM4 lebih tinggi dibanding kompos + MOL. Secara umum kedua kompos masuk kategori layak digunakan berdasarkan standar SNI No. 19-7030-2004. Kata kunci: kompos daun; mikroorganisme lokal; EM4 PENDAHULUAN Ketidakpedulian terhadap permasalahan pengelolaan sampah akan berakibat terjadinya degradasi kualitas lingkungan yang merusak kenyamanan hidup dan menurunkan kualitas kesehatan masyarakat (Hadi, 2000). Mengacu pola edukasi pengelolaan sampah organik seperti yang telah banyak diaplikasikan di berbagai daerah, prinsip 3 R (Reduce, Reuse, Recycle). paling banyak diterapkan (Anonimus, 2007). Oleh karena itu seyogyanya pada tahap pengumpulan sampah sudah mulai dipilah, dan pada tahap selanjutnya diharapkan hanya sampah yang tidak memiliki prinsip 3R yang dibuang ke TPA (Widyatmoko dan Moerdjoko, 2002). Priyantini Widiyaningrum, Lisdiana 65 Saat ini hampir seluruh pengelolaan sampah di perkotaan berakhir di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) yang di kelola oleh pemerintah, padahal menurut Kustiah (2005) kemampuan pemerintah kota mengelola sampah hanya 49,09 % dan 1,02% di pedesaan. Semakin banyaknya sampah yang dibebankan kepada TPA disebabkan antara lain karena belum dilakukannya upaya pengurangan volume sampah secara sungguh-sungguh sejak dari sumbernya. Syafrudin (2004) mengemukakan cara terbaik yang ditempuh untuk mengurangi atau mengendalikan volume sampah agar beban TPA tidak semakin berat adalah dengan melakukan pemilahan sampah dan penerapan prinsip 3 R (Reduce, Reuse, Recycle) yaitu prinsip pengurangan, penggunaan kembali dan daur ulang terhadap sampah. Dengan prinsip tersebut jumlah sampah yang benar- benar dibuang tinggal 35% sehingga meringankan beban TPA sekaligus memperpanjang masa pemakaiannya. Dari situs International Institute for Sustainable Development (2012), dijelaskan bahwa pengelolaan limbah tidak hanya mencakup 3R, melainkan 4R, yaitu reduction, reuse, recycling dan recovery. Di lain pihak, pembentukan humus secara alami berlangsung sangat lama tergantung keberadaan mikroorganisme pengurai dan kondisi cuaca. (Suryani, 2010). Lingga (2008) mengungkapkan bahwa proses pembentukan humus yang relatif lama disebabkan oleh kondisi yang tidak terkendali, dimana mikroba aerobik dan anaerobik saling bergantian mengambil peran sesuai kondisi lingkungannya serta ada atau tidaknya oksigen. Berbeda dengan humus, proses pembentukan kompos kondisinya lebih terkontrol karena manusia terlibat dalam mengendalikan jenis mikroba pengurai, komponen bahan, maupun kadar air, sehingga proses pembusukan lebih cepat. Keberhasilan dan kecepatan proses pembentukan kompos sangat ditentukan oleh banyak faktor, antara lain rasio C/N bahan, ukuran partikel bahan, jumlah mikroorganisme, temperatur, kelembaban, aerasi, dan pH (Indriani,2006). Menurut Sofian (2006) Cara yang paling umum dalam membuat kompos saat ini adalah menggunakan campuran bahan organik sumber nitrogen dan sumber carbon dalam komposisi tertentu, kemudian ditambahkan bioaktivator. Campuran tersebut kemudian difermentasi dengan cara menutupnya dengan menggunakan penutup dan membiarkannya selama 5-7 hari. Pada hari kedua dan ketiga, temperatur bahan kompos akan meningkat menjadi 40-600C. Jika temperatur meningkat, tumpukan bahan tersebut harus dibalik, kemudian ditutup lagi. Tiga har

Recently converted files (publicly available):