• Document: METODOLOGI PENELITIAN
  • Size: 752.83 KB
  • Uploaded: 2019-05-17 14:59:33
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

17 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lokasi persawahan dan rumah kompos Dept. Teknik Sipil dan Lingkungan IPB di Kelurahan Margajaya, Kec. Bogor Barat, Kota Bogor. Analisis kualitas kompos dilakukan di Balai Penelitian Tanah, Kementerian Pertanian. Pengujian kualitas air irigasi dan lumpur dilakukan di Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) IPB. Penelitian dilaksanakan dari bulan April 2010 sampai dengan Juni 2011. 3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah mesin pemotong (chopper), moisture tester merk Crown, termometer, timbangan pegas, sekop, cangkul, ember, spidol, karung, alat tulis, gelas takar 1 liter, botol sampel 1 liter dan 500 ml, plastik, kertas label, sendok, seperangkat peralatan uji kandungan hara kompos, dan seperangkat alat pengujian kualitas air irgasi dan lumpur. Bahan yang digunakan adalah benih padi, sawah percobaan dan pupuk organik, jerami, kotoran kambing, kotoran ayam, dan EM-4. Bahan analisis air irigasi dan lumpur serta analisis kandungan unsur hara kompos adalah seperangkat bahan uji kualitas air irigasi dan lumpur serta kualitas kompos. 3.3 Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilakukan dalam beberapa tahapan kerja, yaitu pengomposan jerami, analisis kompos dan justifikasi kualitas kompos, analisis kualitas air irigasi dan lumpur, serta penyusunan neraca massa limbah-kompos. Bagan alir penelitian secara skematis disajikan pada Gambar 10. Masing-masing tahapan kerja tersebut akan diuraikan sebagai berikut ini. 3.3.1 Pengomposan Jerami Pengomposan dilakukan menggunakan jerami sebagai bahan baku dari kompos yang dihasilkan. Hal yang pertama dilakukan adalah penyediaan jerami dan dekomposer ke areal rumah kompos yang tersedia. Pengomposan dilakukan 18 dengan metoda aerobik dan anaerobik. Pengamatan temperatur dilakukan untuk menentukan waktu akhir proses pengomposan. 3.3.1.1 Pengomposan jerami metoda aerobik Pengomposan jerami menggunakan metoda aerobik dilakukan dengan mencampurkan jerami dan dekomposer dan kemudian mengkondisikannya agar mengalami biodegradasi dengan penambahan oksigen untuk mempercepat prosesnya. Pengomposan metoda aerobik menggunakan sistem terbuka yaitu tumpukan (turned piles), windrow (turned windrow), tumpukan yang diberikan oksigen (aerasi), dan pengomposan dalam silinder. Pada pengomposan sistem tumpukan yang diberi oksigen, pemberian oksigen dilakukan melalui para-para (tunnel) yang diletakkan di bawah tumpukan campuran. Pembuatan tunnel menggunakan bahan belahan bambu dengan kerangka kayu kaso 5/7 dan dilapisi kasa aluminium halus. Para-para (tunnel) ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2. Para-para (tunnel) aerasi 19 Pengomposan sistem silinder dilakukan dengan menggunakan jaring (kasa) yang mempunyai mesh 0,5 cm dengan cara membungkus jerami dan kotoran hewan sedemikian rupa sehingga membentuk silinder. Agar tetap menjaga kondisi stabil dari campuran tersebut, maka silinder diikat menggunakan tali karet. Teknik pengomposan sistem silinder dimaksudkan agar pembalikan kompos menjadi lebih mudah dengan memanfaatkan posisi silinder yang tidak stabil. Teknik pengomposan sistem silinder ditunjukkan pada Gambar 3. Gambar 3. Pengomposan sistem silinder Jerami yang digunakan berupa cacahan dan yang tidak dicacah. Pencacahan menggunakan mesin pemotong (chopper) dengan ukuran 0,5-5 mm. Beberapa cara pengomposan yang dilakukan adalah (1) sistem tumpukan (jerami cacah tanpa campuran, jerami cacah dengan kotoran ayam, jerami cacah dengan kotoran kambing), (2) sistem aerasi (jerami cacah dengan EM4, jerami cacah dengan kotoran ayam, jerami cacah dengan kotoran kambing dan jerami tanpa cacah dengan kotoran kambing), (3) sistem windrow (jerami tanpa cacah), dan (4) sistem silinder (jerami tanpa cacah dengan kotoran kambing). Untuk menjaga kelembaban dari campuran homogen tersebut dilakukan penyiraman dan pembalikan untuk mendapatkan proses aerobik dari kompos tersebut, yang dilakukan dua atau tiga hari sekali. Penyiraman dan pembalikan 20 tumpukan dilakukan secara terus menerus sampai kompos matang. Secara skematis pengomposan aerobik disajikan pada Gambar 4. Dekomposer 1. kot. Ayam 2. kot. Kambing 3. EM4 Pengomposan Jerami 1. Tumpukan Campuran Penyiraman dan 1. cacah 2. Aerasi homogen pembalikan 2. tidak cacah 3. Windrow 4. Silinder Kompos halus Penyaringan Kompos matang Gambar 4. Skema pengomposan aerobik 3.3.1.2 Pengomposan jerami m

Recently converted files (publicly available):