• Document: 7. BONDING. Universitas Gadjah Mada 1
  • Size: 53.1 KB
  • Uploaded: 2019-03-24 09:57:29
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

7. BONDING 7.1. Mekanisme Terjadinya Adhesi Setiap material restorasi membutuhkan retensi dengan berbagai sistem koneksi atau perlekatan (attachement). Adhesi atau bonding adalah fenomena yang terjadi bila dua substansi yang berbeda bergabung menjdi satu, berkontak dengan karena adanya gaya tarikmenartik diantara keduanya. Adhesif : material yang digunakan untuk menghasilkan adhesi Istilah bonding digunaskan untuk adhesi atau attachement. Bonding dapat terjadi bila cairan masuk ke dalam porus atau celah permukaan material. Karena adanya mechanical interlocking yang terjadi ketika cairan tersebut mengeras, akan berbentuk ikatan (bond) yang kuat. Adhesi = bonding Prinsip adhesi : Terjadi apabila dua substansi bergabung atau berkontak karena adanya gaya tank menarik antara keduanya. Material adhesif adalah material yang digunakan untuk menghasilkan adhesi, sedangkan adheren adalah tempat dilekatkannya material adhesif. Kualitas adhesi tergantung pada sifat permukaan dan material adhesif. Adhesi yang baik dapat diperoleh apabila permukaan struktur gigi cukup kasar secara mikroskopis dan makroskopis, serta bersih dari debris. Agar diperoleh suatu perlekatan yang baik maka hendaknya : 1. Permukaan substrat harus bersih 2. Material adhesif dapat membasahai subsrat dengan baik, mempunyai sudut kontak kecil, dan mengalir ke seluruh permukaan 3. Adaptasi dari substrat menghasilkan perelekatan material tanpa adanya udara yang terperangkap. 4. Interface mempunya sifat fisik, mekanik yang cukup atau kekuatan mekanik yang dapat menahan kekuatan debonding (pelepasan) 5. Adhesif hams bisa sempurna dibawah kondisi yang direkomendasikan dalam penggunaannya Mekanisme debonding : Debonding : terjadi oleh karena proses dari terbentuknya keretakan dan perambatan keretakan yang menyebabkan kegagalan perlekatan. Universitas Gadjah Mada 1 Berbagai macam tes dapat dikembangkan untuk mengukur kekuatan ikatan anatara dua material. Contoh : semen dengan metal, porselin dengan metal (lab), atau bahan adhesive dengan email atau dentin gigi. Contoh pemakaian bonding : Adhesi komposit pada email yang dietsa antara 20 sampai 24 Mpa. 7.2. Sifat Bahan Bonding Adhesi merupakan hasil dari retensi mekanikal dari polimer matrik agent bonding ke dalam permukaan etsa yang kasar dari enamel. Kegagalan bisa terjadi dalam komposit, menggambnarkan kekuatan tensile. Bonding terbentuk antara agent polimer mempunyai viskositas rendah dan permukaan email. Kekuatan tergantung pada penetrasi resin ke dalam permukan email yang irreguler. Untuk memperoleh kekuatan ikatan yang optimum, permukaan harus diperlakukan dengan etsa. Biasanya asam phosphat 35 sampai 50 %. Etsa permukan email akan menambah luas area untuk bonding, menaikan surface energi untuk memudahkan wetting, Bonding yang adekuat tergantung pada permukaan etsa yang kering, sehingga harus dijaga dari kontaminasi saliva. 7.3. Bonding Email dan Dentin Modifikasi email dan dentin : Berbagai surface treatment telah diuji coba untuk meningkatkan perlekatan material pada email dan dentin, yaitu dengan menggunakan enzim, chelating agent, asam dan alkali. Teknik etsa asam merupakan teknik yang banyak digunakan untuk memodifikasi email. Etsa asam akan menghasilkan : 1. Menghilangkan debris dari permukaan email 2. Membentuk pori-pori pada email 3. Meningkatkan energi bebas permukaan email 4. Memperluas area permukaan email. Email dan dentin bonding agent untuk direct komposit Bonding agent modern berisi 3 komposisi utama yaitu : (etsa asam, primer dan adhesif) dapat dikemas sendiri-sendiri atau kombinasi. Sekarang telah Nadir bonding agent generasi 4, 5 dan 6 Komposisi : Etchants 1. (Maleic, tartaric, citric, EDTA, monomer asam) 2. Asam poliakrilat (polyacrylic acid) Universitas Gadjah Mada 2 3. Mineral (asam hidroklorik, asam nitra dan asam hydrofluorik) Tetapi asam phosphat baik dalam bentuk cairan maupun dalam bentuk gel (37 %, 35 % serta 10 %) memperlihatkan hasil etsa yang baik. Etsa asam juga disebut conditioners. Primers : Monomer hidrofilik biasanya tercampur dalam pelarut (solvent). Asam primer yang berisis kelompok karbosiklik digunakan dalam bonding self-etchant. Solven yang digunakan adala : aceton, ethanol-air atau air saja. Dalam beberapa pimers, solvent bisa mencapai 90 % tetapi untuk bonding generasi 4 dan 5 tidak mengandung solvent. Primers mempunyai perbedaan dalam : derajad penguapan, pola penegingan, dan karakteristik penetrasi yang semua ini akan berpengaruh dalam perlekatan. Tabel keuntungan dan kerugian berbagai macam solvent Solvent Keuntungan Kerugian Acetone Cepat mengering Dapat menguap dalam kemasan, sensitif dalam keadaan basah dari den

Recently converted files (publicly available):