• Document: PENGARUH PENGENCANGAN BAUT TERHADAP LENDUTAN PADA MODEL JEMBATAN RANGKA BAJA
  • Size: 975.15 KB
  • Uploaded: 2018-10-12 01:13:45
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

PENGARUH PENGENCANGAN BAUT TERHADAP LENDUTAN PADA MODEL JEMBATAN RANGKA BAJA Stefanus Suharto, Sugeng P. Budio, Eva Arifi Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijayabbba Jl. MT. Haryono 167 Malang, 65145, Jawa Timur – Indonesiannnk Email: stefanussuharto@gmail.combgbc ABSTRAK.i. Pada pelaksanaan sesungguhnya, lendutan pada jembatan rangka baja tidak boleh melebihi lendutan izin untuk dapat memenuhi aspek keamanan dan kenyamanan. Pengencangan sambungan baut pada jembatan rangka baja menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi lendutan yang terjadi pada jembatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian lendutan terhadap model jembatan rangka baja dengan variasi nilai pengencangan baut. Pengencangan baut dilakukan menggunakan kunci torsi dari nilai pengencangan tinggi ke rendah (2,0 kgfm - 1,2 kgfm - 0,2 kgfm) dan dari rendah ke tinggi (0,2 kgfm - 1,2 kgfm – 2,0 kgfm). Hasil pengujian beban 500 kg di tengah bentang menunjukan bahwa pada pengencangan baut dari tinggi ke rendah, didapatkan hasil lendutan rata-rata di tengah bentang mengalami pertambahan seiring dengan pengurangan kuat kencang baut. Sedangkan pengencangan baut dari rendah ke tinggi menunjukan bahwa lendutan mengalami pengurangan seiring dengan penambahan kuat kencang baut. Sehingga dapat disimpulkan pada pengujian beban elastis semakin besar kuat kencang baut, maka semakin kecil nilai lendutan yang dihasilkan jembatan. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap kekakuan struktur, dimana semakin besar kuat kencang baut maka semakin besar nilai kekakuan struktur yang dimiliki jembatan. Kata kunci : jembatan rangka baja, sambungan baut, lendutan, kekakuan, kunci torsi. ABSTRACT.a. In the real implementation, deflection of steel truss bridge must be not exceed the the deflection limits in order to fullfill safety and comfortability. Bolt connection tightening of steel truss bridge can be one of the factors that influence the deflection of the bridge. Therefore, the deflection test to steel truss bridge model need to be done with variation in applied torque to the bolts. Bolt Tightening is done by using torque wrench from high to low torque levels (2,0 kgfm - 1,2 kgfm - 0,2 kgfm) and from low to high torque levels (0,2 kgfm - 1,2 kgfm – 2,0 kgfm). Loading test 500 kg in the middle of the bridge results show that at the bolt tightening from high to low torque level, obtained the result on average joint deflection at the middle of the bridge increases with decrease in tightening of bolt. While at the bolt tightening from low to high torque level, obtained the result on average joint deflection at the middle of the bridge decrease with increase in tightening of bolt. So can be concludedkat elastic loading test that when the level of bolt tightening is getting higher then the joint deflection of the bridge value will be getting smaller. It also affects the stiffness of the structure, when the level of bolt tightening is getting higher then the structure stiffness of the bridge value will be getting higher. Keyword : steel truss bridge, bolted connection, deflection, stiffness, torque wrench. I. PENDAHULUAN II. TINJAUAN PUSTAKA Kondisi geografis wilayah Indonesia Sifat Mekanik Material Baja sebagian besar didominasi oleh wilayah Menurut Setiawan (2008), model perairan serta memiliki bentuk topografi pengujian yang dapat menggambarkan sifat yang bermacam-macam. Hal tersebut mekanik dari material baja adalah menyebabkan permukaan wilayah Indonesia melakukan uji tarik terhadap benda uji baja memiliki banyak rintangan pemisah yang menghasilkan grafik hubungan transportasi antar daerah seperti tegangan dengan regangan. Pada daerah pegunungan, bukit, dan sungai-sungai. Oleh linier, berlaku persamaan hukum Hooke : karena itu, Indonesia memerlukan infrastruktur penghubung yang mampu menghubungkan satu daerah ke daerah lain yang terpisahkan oleh rintangan, yaitu konstruksi jembatan. Jembatan yang telah beroperasi sebagai infrastruktur penghubung harus mampu Dimana : memberikan aspek keamanan dan  = Tegangan Aksial (kg/cm2) kenyamanan pada pengguna yang hendak  = Regangan Aksial melewati jembatan agar tidak timbul rasa P = Gaya Aksial (kg) kekhawatiran dari para pengguna jembatan. L = Panjang struktur mula-mula (cm) Lendutan dapat menjadi salah satu hal yang E = Modulus Elastisitas (kg/cm2) harus diperhatikan dalam perencanaan A = Luas Penampang Batang (cm2) konstruksi jembatan, dimana lendutan yang L = Pertambahan panjang struktur (cm) terjadi pada jembatan tidak boleh melebihi nilai lendutan ijin yang telah ditetapkan SNI 03-1729-2002 membagi mutu baja berdasarkan aspek keamanan dan berdasarkan tegangan leleh dan tegangan kenyamanan jembata

Recently converted files (publicly available):