• Document: BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan sarana komunikasi yang efektif dalam menjalin interaksi
  • Size: 243.06 KB
  • Uploaded: 2019-05-17 22:19:14
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan sarana komunikasi yang efektif dalam menjalin interaksi sosial. Komunikasi dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan. Komunikasi lisan terkait dengan kemampuan manusia dalam menguasai keterampilan menyimak dan berbicara sedangkan komunikasi tulisan terkait dengan kemampuan membaca dan menulis. Keterampilan-keterampilan ini saling berkaitan dalam menunjang komunikasi. Keterampilan berbahasa diperoleh secara berurutan: mula-mula pada masa kecil, kita belajar menyimak bahasa kemudian berbicara, setelah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara dipelajari sebelum memasuki sekolah. Awal mengikuti pendidikan formal, anak dikenalkan dengan kegiatan membaca dan menulis permulaan. Selanjutnya pada kelas 4-6 sekolah dasar, anak diajarkan membaca dan menulis lanjut. Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang terakhir dikuasai setelah keterampilan menyimak, berbicara, dan membaca. Keterampilan menulis membutuhkan kemampuan dalam memahami huruf, kata, kalimat, paragraf. Pada mulanya anak hanya memperhatikan, mengingat-ingat, menirukan, dan menambahkan informasi yang diambil dari sebuah buku atau informasi yang didengarnya. Permulaan kebiasaan seperti ini dapat melatih keterampilan anak dalam 1 2 memilih kata, menyusunnya menjadi kalimat, merakit paragraf, membeberkan masalah, memulai tulisan, dan menguraikan isi. Menulis merupakan kegiatan yang sifatnya berkelanjutan sehingga pembelajarannya perlu dilaksanakan secara berkesinambungan sejak di sekolah dasar. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa keterampilan menulis di sekolah dasar merupakan kemampuan mendasar sebagai bekal belajar menulis di jenjang berikutnya. Oleh karena itu, kegiatan menulis perlu mendapat perhatian yang optimal sehingga dapat memenuhi target keterampilan menulis yang diharapkan. Menulis merupakan salah satu keterampilan yang dikuasai siswa sekolah dasar. Siswa kelas V sekolah dasar harus memiliki kemampuan menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan kata dan penggunaan ejaan. Standar kompetensi menulis yang terdapat dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pengajaran (KTSP) adalah mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman secara tertulis dalam bentuk karangan, surat undangan, dan dialog sederhana. Berdasarkan kurikulum tersebut, siswa diharapkan mampu mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman secara tertulis dalam berbagai bentuk tulisan. Pada kenyataannya tidak semua siswa senang dan pandai menuangkan ide, perasaan, informasi, dan pemikirannya ke dalam tulisan. Penelitian yang dilakukan Heniati (2006: 2) menyatakan bahwa faktor penyebab ketidakmampuan siswa tersebut diantaranya guru lebih banyak menekankan teori dan pengetahuan bahasa daripada mengutamakan keterampilan berbahasa. Proses belajar mengajar pun lebih 3 banyak didominasi guru, kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk berperan serta. Nurmala (2008: 8) berpendapat bahwa kesulitan ini disebabkan faktor psikologis dan metodologis. Secara psikologis, kebanyakan siswa menganggap menulis sebagai beban karena merasa kurang mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Secara metodologis, guru umumnya kurang bervariasi dalam memilih metode dan strategi pembelajaran. Adapun menurut Dasripin (2008: 4) bahwa siswa tidak mampu menulis dengan baik karena metode yang diterapkan guru tidak bisa menjadikan siswa terampil dalam menulis. Jika metode pembelajaran tidak menarik tentu pembelajaran menulis tidak akan berhasil. Ristiani (2009: 410) menuturkan bahwa kesulitan menulis pada anak sekolah dasar disebabkan sulitnya mencari dan memilih kata (faktor ketidakmampuan) dan mengatasi rasa malas atau enggan menulis (faktor ketidakmauan). Gambaran kesulitan menulis tersebut juga penulis temukan pada siswa kelas V SDN di Gugus 66 Kota Bandung. Secara garis besar, siswa kesulitan menemukan ide atau gagasan sesuai dengan tema yang diminta guru. Faktor penyebab kurang berhasilnya pembelajaran menulis diantaranya pertama, kurangnya informasi atau pengalaman mengenai tema yang akan ditulis; kedua, kegiatan menulis menjadi beban bagi siswa sehingga mereka kurang termotivasi; ketiga, kurangnya eksplorasi bahan tulisan; keempat, guru lebih menekankan teori tata bahasa; kelima, kurang variatifnya metode pembelajaran menulis. 4 Faktor-faktor penyebab tersebut merupakan kendala yang harus ditanggulangi dengan seksama. Di sini, guru sebagai fasilitator, menurut Brown (1994: 34-37) memiliki peranan penting

Recently converted files (publicly available):