• Document: Dirt on My Boots. Titi Sanaria PENERBIT PT ELEX MEDIA KOMPUTINDO
  • Size: 650.7 KB
  • Uploaded: 2018-10-20 10:25:00
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

Dirt on My Boots Dirt on My Boots Titi Sanaria PENERBIT PT ELEX MEDIA KOMPUTINDO Dirt on My Boots Copyright ©2017 Titi Sanaria Editor: Dion Rahman Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang Diterbitkan pertama kali tahun 2017 oleh PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia, Anggota IKAPI, Jakarta 717031673 ISBN: 978-62-04-4723-0 Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit. Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan Prolog “STILETTO gila. Gue pilih nggak ML setahun penuh daripada disuruh pakai benda sialan ini lagi!” Gue menoleh saat mendengar umpatan itu. Ada dua gadis berada nggak jauh dari tempat gue berdiri. Salah seorang di antaranya sedang berjongkok, berusaha melepas sepatu yang dikenakannya. “Lha, yang suruh lo pakai stiletto siapa?” Gadis yang satu menanggapi sambil tertawa. “Begonya, itu keputusan yang gue ambil secara sadar. Tungkai gue tadi kelihatan cantik banget saat nyobain benda terkutuk ini di mal. Gila, gue baru tahu ternyata terlihat cantik itu sakit banget.” “Astaga, lo beneran mau lepas sepatu dan nyeker sampai tempat parkir?” Gadis yang satu tampak makin geli. “Tahan aja, kenapa? Sedikit lagi sampai, kok.” “Sedikit lagi gue ambruk, Sa. Lo mau gendong gue ke rumah sakit karena kaki gue patah? Patah kaki saat mendaki gunung itu keren, tapi kalau patah kaki karena dianiaya sti- letto, konyol namanya.” Gadis pengumpat itu benar-benar melepas sepatunya. Tanpa canggung dia berjalan telanjang kaki sambil menen- teng sepatu. Kali ini gue bisa melihat wajahnya dengan jelas. Manis. “Eh, acara belum kelar lho, Sit. Ini kita beneran mau pu- lang?” Teman gadis itu tampak belum rela meninggalkan restoran. “Pak Freddy bisa tersinggung kita bubar jalan duluan.” viii | Titi Sanaria “Sepatu bodoh ini nggak mau diajak kompromi banget, Sa. Bokong seksi Pak Freddy bahkan nggak bisa membuat gue bertahan lebih lama, padahal lo tahu gimana obsesi gue sama bokong Pak Freddy. Ini beneran menyiksa. Gue salut banget sama para peragawati itu. Duitnya halal banget. Gue mending disuruh pikul batako deh, ketimbang pakai sepatu tolol ini. Siapa pun yang menciptakan stiletto, dia pasti laki-laki dan dendam banget sama perempuan.” “Dari mana lo tahu kalau penciptanya laki-laki?” “Gue nggak tahu, Sa, feeling gue aja sih. Soalnya pakai ini rasanya kayak dibantai. Jadi gue pikir penciptanya pasti laki- laki kekurangan big O yang baru diputusin pacarnya.” Mau nggak mau gue tersenyum mendengar ucapan ga- dis itu. Lucu. Akan lebih lucu lagi kalau Freddy yang me­reka maksud sama dengan Freddy yang gue tahu. “Hei, Fen, kok nggak langsung masuk?” Bahu gue ditepuk dari belakang. Mas Freddy. “Ini baru mau masuk. Sorry telat.” Gue menunjuk ke­dua gadis yang kini menjauh dari tempat kami berdiri. “Mas Fred- dy kenal mereka?” “Iya, itu anak-anak di kantor. Lho, kok mereka sudah pu- lang, ya?” Mas Freddy tampak bingung. “Lo kenal Sita sama Raisa juga?” Gue menggeleng. “Baru lihat. Kelihatannya lucu.” “Lucu?” Mas Freddy tertawa. “Kalau yang lo maksud itu Sita, dia lebih pantas disebut unik daripada lucu. Ke­ajaiban dunia nomor delapan. Lo akan mengerti kalau nanti sudah masuk kantor dan kerja dengan dia.” Gue terus mengawasi gadis yang bertelanjang kaki sambil mengayun sepatunya dengan santai itu sampai hilang ditelan tembok, sebelum mengikuti Mas Freddy masuk ke restoran. Jadi gue akan bekerja dengan gadis lucu itu? Hem … kede­ ngarannya menarik. [] Satu HAMPIR mau tengah malam saat aku keluar dari kantor. He- bat. Aku benar-benar pekerja teladan. Ini bukti dedikasi. Aku sangat mencintai pekerjaanku. Mungkin aku sebaiknya tidak perlu pulang. Aku bisa menggelar tikar di kaki kubikelku dan menghabiskan malam di sini, memeluk erat kaki kursi dan mencari kehangatan di sana. Baiklah, itu bohong. Sarkasme tingkat tinggi. Aku memang menyukai pekerjaan dan uang yang kuhasilkan dari situ. Na- mun tidak cukup cinta untuk menghabiskan malam di kantor yang sepi dengan segalon kopi instan yang akan membuatku mabuk kafein. Eh, memangnya ada ya, orang yang bisa mabuk kafein? Entahlah. Intinya, tinggal dan lembur di kantor sama sekali bukan ke- inginanku. Apalagi di malam Minggu seperti ini. Benar-benar ejekan untuk statusku. Perempuan ter-amat-sangat–jomlo- sekali di planet bumi, sehingga menjadikan pekerjaan sebagai pelarian. Ho … ho … ho… tidak, aku tidak semenyedihkan itu. Ada banyak pilihan menarik untuk dihabiskan di malam Minggu. Membaca ulang seri Crossfire atau Fifty Shades of Grey, misalnya. Atau melihat update-an hentai. Dan jangan lupakan unduhan film biru dari situs yang lolos dari pantauan ke- meninfo. Gambar bergerak benar-benar bisa memacu adrena- lin. Terutama untuk jomlo sepertiku. Yeah, hell, right. Kembali ke status itu lagi. Sial! 2 | Titi Sanaria Aku berad

Recently converted files (publicly available):