• Document: BAB III SEJARAH EKSPOR KERAJINAN ROTAN DESA TRANGSAN TAHUN
  • Size: 459.61 KB
  • Uploaded: 2019-03-24 09:39:55
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

BAB III SEJARAH EKSPOR KERAJINAN ROTAN DESA TRANGSAN TAHUN 1986-2009 A. Latar Belakang Munculnya Kerajinan Rotan Desa Trangsan 1. Sejarah Perdagangan Rotan di Indonesia a. Deskripsi Tumbuhan Rotan, Budidaya, dan Pengolahannya Rotan merupakan jenis tumbuhan yang berasal dari famili (keluarga/ suku/marga) 1 Palmae (Palem) yang tumbuh menjalar, berumpun-rumpun, dan membelit-belit pada pohon. Dahan-dahannya tinggi dengan panjang batang dari pangkal sampai ke ujung dapat mencapai 100 meter. 2 Batang rotan biasanya langsing dengan diameter beberapa milimeter hingga sepuluh centimeter, beruas- ruas panjang, tidak berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras, dan tajam. 3 Batang inilah yang banyak dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis. Tumbuhan ini banyak tersebar di bagian bumi beriklim tropis dan subtropis terutama di daerah khatulistiwa.Di berbagai bagian Asia Tenggara rotan merupakan hasil hutan yang paling penting setelah kayu. 1 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, famili berarti pengelompokan makhluk hidupyang mempunyai sifat atau ciri-ciri yang sama. Lihat Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Keempat (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm. 387. 2 Soedjono, Berkreasi dengan Rotan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1987), hlm. 9. 3 J. Dransfield dan N. Manokaran (ed), Sumber Daya Nabati Asia Tenggara No.6: Rotan (Yogyakarta: Gajah Mada University Press bekerja sama dengan Prosea Indonesia, 1996), hlm. 21. 32 33 Di kawasan Indonesia terdapat delapan suku spesies rotan. Delapan suku spesies rotan tersebut yakni Calamus, Daemonorops, Khorthalsia, Plectocomia, Ceratolobus, Plectocomiopsis, Myrialepis,dan Calospatha dengan total jenis mencapai kurang lebih 306 jenis. Dari 306 jenis rotan tersebut, 51 diantaranya sudah dimanfaatkan dan memiliki nilai komersial tinggi serta banyak diperdagangkan.4 Rotan umumnya tumbuh tanpa ditanam dan tidak memerlukan pemeliharaan. Tumbuhan rotan banyak terdapat di hutan-hutan Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Jawa.5Rotan-rotan tersebut memang ada yang dibiarkan tumbuh tanpa ditanam di hutan-hutan rotan, tetapi ada juga yang sengaja dibudidayakan. Rotan dibudidayakan dalam tiga skala, yakni skala perkebunan untuk penggunaan komersil, skala desa untuk penggunaan domestik dan sebagai suatu hasil bumi penghasil uang, serta budidaya secara eksperimental dalam kebun-kebun kecil. Budidaya rotan di Indonesia sudah dikembangkan sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Perkebunan-perkebunan rotan pertama adalah di kawasan sekitar Barito, Kapuas, dan Kaharjan di Kalimantan sekitar tahun 1850. Misionaris Kristen telah mendorong penanaman dua spesies rotan berumpun berdiameter kecil Calamus caesius dan C. trachycoleus oleh para petani pada pekarangan kecil. Sejak itu luas pekarangan sepanjang dataran rendah aluvial dari Sungai Barito dan ana-anak 4 Ibid., hlm. 13. 5 Febriani Safitri, “Rotan dan Penyebarannya di Indonesia”, http://geofebrhy.blogspot.com, diakses pada 12 Januari 2015. 34 sungainya di Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan telah meningkat menjadi 15.000 hektar. Menjelang berakhirnya dasawarsa 1980-an perkebunan tingkat desa ini menyumbangkan sekitar 10% dari suplai rotan mentah Indonesia. Peladang berpindah di Kalimantan Timur telah menanam rotan di hutan selama waktu sekitar 15 tahun untuk dipanen kemudian. Uji coba budidaya dari beberapa jenis rotan dimulai pada periode 1980-an, terutama di Jawa. Beberapa perusahaan pemerintah melakukan penanaman beberapa jenis rotan komersil di Jawa dan Kalimantan pada tahun 1988-1993.6 Rotan dipanen terutama yang tumbuh liar di hutan-hutan Kalimantan. Hanya sedikit yang merupakan hasil produksi perkebunan di Kalimantan Tengah dan Selatan. Kelompok-kelompok petani berjumlah tiga sampai lima orang menerobos hutan untuk mengumpulkan rotan. Pengumpulan rotan cukup berbahaya karena masuk hingga pedalaman hutan. Selain itu, dahan yang mati dalam proses penarikan rotan juga cukup berbahaya. 7Dalam proses pemanenan atau pengambilan rotandari hutan setidaknya ada lima tahapan kegiatan yangharus dilakukan seusai tanaman rotan ditemukan, meliputi: (1) Memastikan usia rotan sudah layak tebang; (2) Membersihkan pelepah berduri, agar rotanmudah ditebang; (3) Menguliti rotan, terkadang rotan juga seringdibiarkan sebagaimana adanya; 6 J. Dransfield dan N. Manokaran (ed), op. cit., hlm. 31-32. 7 Ibid., hlm. 36-37. 35 (4) Memukuli batang

Recently converted files (publicly available):