• Document: BAB II SISTEM KOMUNIKASI SATELIT
  • Size: 366.36 KB
  • Uploaded: 2019-05-17 17:33:15
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

BAB II SISTEM KOMUNIKASI SATELIT 2.1 Latar Belakang Teknologi satelit berawal dari tulisan Arthur C. Clarke (1945) yang berjudul Extra Terrestrial Relays, tulisan ini muncul karena adanya keterbatasan jarak untuk transmisi radio terrestrial (permukaan bumi). Pada tulisan tersebut diungkapkan tentang visinya, bahwa pada dasarnya telekomunikasi melalui radio bisa dilakukan menjangkau seluruh permukaan bumi apabila kita menempatkan tiga buah stasiun penggulang radio (relay stasion) di ruang angkasa pada jarak tertentu. Pada dasarnya komunikasi melalui satelit adalah sama dengan sistem radio microwave dengan sebuah pengulang. Dimana pengulang yang berupa satelit yang mengorbit bumi dengan jarak 36.000 km (22,300 mil) dari permukaan bumi. Untuk melakukan komunikasi ini dibutuhkan suatu sistem dengan perangkat yang tidak sederhana yang harus mempunyai kehandalan yang tinggi. Pada sistem komunikasi satelit untuk akses ke satelit dapat dilakukan dengan cara single accses dan multiple accses. Single acces yaitu penggunaan atau pemanfaatan satu transponder oleh satu stasiun bumi, contohnya SCPC (Single Channal Per Carrier). Sedangkan multiple acces adalah penggunaan satu transponder oleh beberapa stasiun bumi secara bersamaan tanpa saling menganggu satu sama lain, contohnya TDMA (Time Division Multiple Acces). Pemakaian teknologi satelit sebagai sarana telekomunikasi memberikan keuntungan, namun demikian tetap ada kekurangannya. Keuntungan pemakaian sistem komunikasi satelit diantaranya adalah : a. Cakupan layanan yang cukup luas b. Tidak tergantung oleh jarak geografis c. Instalasi network dan link yang cepat dan mudah d. Mode komunikasi point to point, muti point dan broadcast Kekurangan pada pemakaian sistem satelit yaitu a. Teknologi yang mahal dan umurnya relatif pendek b. Rentan terhadap pengaruh atmosfir c. Delay propagasi lebih besar 5 Gambar 2.1 merupakan ilustrasi sistem komunikasi satelit mengelilingi permukaan bumi dengan banyak satelit pada orbit geostationer (GEO) sehingga dapat menjangkau hampir seluruh permukaan bumi. Stasiun Bumi Gambar 2.1 Orbit Geosynchronous 2.2 Sistem Komunikasi Satelit Secara garis besar sistem komunikasi satelit terdiri atas 2 komponen, ground segmen (user terminal, stasiun bumi dan jaringan) dan space segmen (power supply, kontrol temperature, telemetry, tracking dan command / TT&C) . Arsitektur sistem komunikasi satelit terlihat pada gambar 2.2 6 Gambar 2.2 Arsitektur Sistem Komunikasi Satelit Pada gambar diatas terlihat bahwa satelit berfungsi sebagai repeater antara stasiun bumi pemancar (sb TX) dengan stasiun penerima (sb RX). Master station (stasiun pengendali utama) yang berlokasi di Cibinong berfungsi untuk mengatur frekuensi pemakai pada transponder dan menjaga satelit tetap berada pada orbit geostationer dengan ketinggian 35.786 km diatas garis katulistiwa. Sebuah satelit harus beroperasi sesuai dengan usia yang telah ditentukan pada saat pembuatannya dengan Telemetry, Tracking Command dan Ranging. Telemetry merupakan pengiriman data-data mengenai satelit ke stasiun pengendali utama yang berisi kondisi satelit. Data-data tersebut dianalisa dan digunakan untuk menentukan tindakan yang harus dilakukan untuk menjaga satelit tetap pada kondisi yang baik. Tindakan yang dapat dilakukan berupa pengiriman command ke satelit untuk menanggapi kondisi satelit, manuver untuk menjaga satelit tetap pada orbitnya. Tracking merupakan tindakan yang dilakukan untuk menjaga pointing antena agar tetap mengarah ke satelit yang dituju. Hal ini dilakukan untuk membantu proses monitor posisi satelit sehingga tidak terjadi interferensi dengan satelit lain. tetapi ada juga antena yang memiliki kemampuan auto-tracking yang dapat mengikuti perpindahan posisi satelit secara otomatis. 7 Ranging dilakukan untuk mengukur jarak satelit dari stasiun pengendali utama dan mengetahui posisi satelit Pada saat pembuatan satelit, diatur band frekuensi yang akan dipakai. Jenis Band frekuensi untuk sistem komunikasi satelit adalah:  C band :4–6 GHz  K band : 18 – 27 GHz  Ku band : 12 – 40 GHz  Ka band : 27 – 40 GHz  L band : 40 – 60 GHz  S band :2–4 GHz  W band : 75 – 111 GHz  X band : 7 – 12,5 GHz (X band digunakan khusus untuk radar) Untuk satelit telkom-1 band frekuensi yang dipakai adalah C band dengan 24 transponder yaitu 12 transponder vertikal dan 12 transponder horizontal. 2.2.1 Space Segmen (Satelit) Pada dasarnya sebuah sate

Recently converted files (publicly available):