• Document: 2 (Oktober 2010) PERHENTIAN HARI SABAT: MAKNA DAN APLIKASINYA BAGI ORANG KRISTEN TIMOTIUS FU PENDAHULUAN Hari Sabat adalah salah satu tema yang utama dan kontroversial di dalam ...
  • Size: 105.66 KB
  • Uploaded: 2021-09-15 01:09:19
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

VERITAS 11/2 (Oktober 2010) 231-241 PERHENTIAN HARI SABAT: MAKNA DAN APLIKASINYA BAGI ORANG KRISTEN TIMOTIUS FU PENDAHULUAN “Hari Sabat” adalah salah satu tema yang utama dan kontroversial di dalam dunia kekristenan. Dikatakan utama, karena tema ini adalah salah satu perintah dalam Dekalog; kontroversial, karena tema ini memiliki muatan teologis yang kental sehingga dari tema ini muncul pengajaran yang sangat beragam, bahkan cenderung saling bertolak belakang. Di ujung yang satu terdapat kelompok orang Kristen yang mengabaikannya karena menganggap hari Sabat sama sekali tidak ada relevansinya dengan Kristen hari ini.1 Di ujung yang berbeda terdapat kelompok lain yang menerapkan pendekatan makna literal terhadap tema ini sehingga mengelompokkan orang-orang yang gagal menjalankan perintah tentang hari Sabat ke dalam kumpulan orang yang akan menerima hukuman kekal dalam api neraka.2 Sedangkan di tengah-tengah kedua kubu terdapat kelompok orang Kristen yang menerapkan perintah ini secara tersirat.3 Perbedaan pengertian dan penerapan di atas bermuara pada penafsiran makna dari tema hari Sabat di dalam Alkitab. Untuk itu, makalah ini akan menyorot makna-makna teologis dari tema ini berdasarkan prinsip-prinsip teologia biblika4 dengan pendekatan tematis. 1 Kelompok ini disebut kaum antinomian yang menganggap orang Kristen sudah hidup di zaman anugerah sehingga tidak terikat dengan semua perintah dalam Dakalog, termasuk perintah keempat (lih. Richard Gaffin, Calvin and the Sabbath: The Controversy of Applying the Fourth Commandment [Ross-shire: Mentor, 1998] 11). 2 Ministerial Association General Conference of Seventh-day Adventists, Seventh- day Adventists Believe: A Biblical Exposition of 27 Fundamental Doctrines (Hagerstown: Review and Herald, 1988) 263. 3 A. G. Shead, “Sabbath” dalam New Dictionary of Biblical Theology (eds. T. S. Alexander dan B. S. Rosner; Downers Grove: InterVarsity, 2000) 749. 4 Dalam arti mempelajari tema hari Sabat secara komprehensif dalam kerangka Alkitab sebagai satu kesatuan dengan memperhatikan hubungan dialektika antara 232 Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan Di akhir makalah ini akan ditampilkan implikasi dari makna biblika tentang hari Sabat sebagai bahan rujukan untuk penerapan perintah keempat Dekalog ini bagi orang Kristen yang hidup di zaman anugerah. ASAL-USUL HARI SABAT Para ahli mengajukan lima teori tentang sumber di luar Alkitab yang menjadi asal-usul hari Sabat, yakni: Babylonian Origin, Lunar Origin, Kenite Origin, Socioeconomic Origin, dan Calendar Origin. 5 Dari kelima teori di atas tidak satu pun memiliki dasar argumentasi yang meyakinkan untuk diterima, sehingga N. A. Andreasen menyimpulkan bahwa “the origin and early history of Sabbath . . . continue to lie in the dark.”6 Dengan demikian, satu-satunya sumber yang menjadi rujukan untuk menemukan asal-usul pengajaran dan makna hari Sabat adalah Alkitab. Secara epistemologis, istilah “hari Sabat” dalam Alkitab pertama kali muncul di Keluaran 16:22-30 ketika orang Israel berada di padang gurun Sin. Saat itu Allah memberikan manna kepada bangsa Israel sebagai makanan harian dan lewat Musa memerintahkan mereka untuk memungutnya setiap hari, kecuali hari ketujuh yang oleh Allah disebut sebagai “Sabat.” Secara konseptual, “Sabat” dalam teks tersebut di atas dapat disejajarkan dengan tindakan Allah berhenti dari karya penciptaan pada hari ketujuh (Kej. 2:1-3),7 serta dianggap sebagai persiapan bagi umat Israel untuk menerima perintah untuk menjalankan hari Sabat lewat Dekalog yang akan diberikan Allah ketika mereka tiba di gunung Sinai (Kel. 20:8-11).8 Selanjutnya, tema “hari Sabat” secara konsisten muncul sebagai sebuah tema yang terus berkembang dalam sebuah kerangka bagian dan keseluruhan serta interaksi antara dimensi-dimensi kesusastraan, sejarah, dan teologi dari teks-teks yang dipelajari (B. S. Rosner, “Biblical Theology” dalam New Dictionary of Biblical Theology 3). 5 Pembahasan yang lengkap untuk topik ini dapat dibaca di Harold H. P. Dressler, “The Sabbath in the Old Testament” dalam From Sabbath to Lord’s Day: A Biblical, Historical and Theological Investigation (ed. D. A. Carson; Grand Rapids: Zondervan, 1982) 22-24. 6 The Old Testament Sabbath (SBLDS; Missoula: Scholars, 1972), dikutip dari ibid. 7 Shead, “Sabbath” 746. 8 Dressler, “The Sabbath in the Old Testament” 24. Perhentian Hari Sabat: Makna dan Aplikasinya bagi Orang Kristen 233 berkesinambungan yang menembus waktu, perjalanan sejarah, dan bentuk kesusastraan Alkitab, baik Perjanjian Lama9 maupun Perjanjian Baru.10 Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa konsep “hari Sabat” dimulai dari Allah pada masa penciptaan alam semesta dan disampaikan kepada bangsa Israel serta diturunkan dari satu generasi ke generasi yang lain sampai kepada zaman Perjanjian Baru. MAKNA HARI SABAT DI PERJ

Recently converted files (publicly available):