• Document: A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN
  • Size: 207.5 KB
  • Uploaded: 2018-10-17 15:16:31
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit adalah adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi- tingginya.1 Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Rekam medis harus dibuat secara tertulis, lengkap dan jelas atau secara elektronik.2 Dengan semakin berkembangnya ilmu kedokteran dan teknologi , data atau informasi dari rekam medis yang baik dan lengkap menjdi penentu tercapainya mutu pelayanan kesehatan di suatu rumah sakit. Adapun indikator mutu suatu rekam medis yaitu kecepatan penyediaan berkas rekam medis, kelengkapan isi dokumen rekam medis, keakuratan kode diagnosis penyakit, dan pemenuhan persyaratan sesuai dengan aspek hukum. Standar profesi perekam medis adalah batasan kemampuan minimal yang harus dimiliki atau dikuasai oleh perekam medis dan informasi kesehatan secara profesional yang diatur oleh organisasi profesi berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 55 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Perekam Medis.3 1 Seorang perekam medis harus mampu melakukan pengkodean dengan tepat dan akurat sesuai dengan ICD 10 dan ICD 9, karena hal tersebut merupakan kompetensi seorang perekam medis.Pengumpulan dan pengolahan data morbiditas dan mortalitas menjadi tidak akurat apabila pengkodean suatu diagnosis prosedur dan istilah penyakit tidak sama. Dalam mengorganisasikan serta menstandarkan bahasa medis, penyelenggara kesehatan mengembangkan nomenklatur penyakit, sistem penyakit dan perbendaharaan istilah rekam medis. Seorang yang bertugas sebagai pemberi kode (coder), harus mampu bertanggung jawab terhadap akurasi kode dari suatu diagnosis yang telah ditetapkan oleh tenaga medis/dokter sebagai penulis diagnosa.Selain itu tenga medis/ dokter harus disiplin dalam mematuhi aturan–aturan penggunaan ICD-10 untuk menentukan diagnosis pasien. Akurasi kode diagnosis sangat akan mempengaruhi ketepatan laporan. Kode diagnosa yang tidak akurat akan mempengaruhi pelaksanaan pengelolaan rekam medis selanjutnya, yaitu pelaksanaan indeks penyakit dan pelaporan rumah sakit. Berdasarkan survei awal dengan observasidari 10 dokumen rekam medis pasien meninggal yang di cek menggunakan tabel MMDS (Medical Mortality Data Sheet)didapatkan hasil 30% kode sebab kematian yang tergolong tidak akurat. Dari hasil wawancara dengan petugas koding hal tersebut dikarenakan belum ada Standar Operasional Prosedur tentang pengkodean sebab kematian, anggapan bahwa sebab kematian tidak mempengaruhi dalam pelaporan rumah sakit, dan tidak digunakannya tabel MMDSpadahal penggunaan tabel MMDS sangat penting karena tabel tersebut dipakai oleh banyak negara untuk melakukan proses pengkodean penyebab kematian bahkan di Indonesia sendiri telah mengembangkan pencatatan sertifikat kematian menggunakan alat bantu tabel MMDS hal tersebut dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. dan mereka beranggapan bahwa kode kematian tidak mempengaruhi dalam pelaporan rumah sakit. 3 Pengisian sertifikat kematian yang digunakan untuk menentukan kode sebab kematian di RS St. Elisabeth Semarang adalah dengan melihat dari riwayat penyakit yang diderita pasien serta keadaan kecelakaan atau kekerasan yang membuat cedera dan menyebabkan pasien tersebut meninggal hal tersebut berpedoman pada buku ICD 10 volume 2. Fungsi dari pengisian sertifikat kematian adalh sebagai pendukung dalam permohonan asuransi, pelaporan rumah sakit tentang kematian, dan sebagai pedoman atau alat untuk memudahkan pencarian apabila dilain waktu ada keluarga yang meminta sertifikat kematian. Contoh penyakit yang ditulis dokter dalam sertifikat kematian adalah sebagai berikut : Pada Ia. Dokter menuliskan Anoxia (R09.0), Ib Status Epileptikus (G41.9), Ic. Gagal Nafas (J96.9), pada contoh kasus tersebut dan dari hasil wawancara dengan dokter yang menjadi penyebab dasar pasien meninggal adalah Status Epileptikus karena status epileptikus adalah penyakit yang menyebabkan pasien mengalami anoxia yang kemudian menjadi gagal nafas, dan anoxia tersebut merupakan sebab kematian sedangkan menurut koder kode sebab kematian pasien tersebut adalah J96.9 (Gagal Nafas), akan tetapi jika penyakit tersebut ditinjau dengan menggunakan Tabel MMDS yang menjadi sebab dasar pasien meninggal adalah G41.9 dan yang menjadi sebab kematian adalah R09.0 karena R09.0 sequale dengan G41.9 sedangkan

Recently converted files (publicly available):