• Document: PENGARUH PENAMBAHAN GLISEROL TERHADAP KUALITAS BIOPLASTIK DARI AIR CUCIAN BERAS
  • Size: 144.44 KB
  • Uploaded: 2019-03-24 03:47:19
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

Pengaruh Penambahan Gliserol terhadap Kualitas Bioplastik … (Layudha dkk.) PENGARUH PENAMBAHAN GLISEROL TERHADAP KUALITAS BIOPLASTIK DARI AIR CUCIAN BERAS Siti Iqlima Layudha*, Ahadta Anandya Rahma, Achmat Riyanto, Rita Dwi Ratnani Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Wahid Hasyim Jl. Menoreh Tengah X/22, Sampangan, Semarang 50236. * E-mail: sitiiqlima.layudha@yahoo.com Abstrak Bioplastik atau yang sering disebut plastik biodegradable, merupakan salah satu jenis plastik yang hampir keseluruhannya terbuat dari bahan yang dapat diperbaharui, seperti pati, minyak nabati, dan mikrobiota. Air cucian beras mengandung karbohidrat jenis pati sebanyak 76% pada beras pecah kulit. Kandungan karbohidrat ini memenuhi syarat pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum dalam pembuatan nata, sehingga air cucian beras tersebut berpotensi sebagai bahan baku pembuatan bioplastik dengan penambahan gliserol sebagai plasticizer. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan gliserol terhadap kualitas morfologi bioplastik dari air cucian beras. Pada penelitian ini, pembuatan bioplastik menggunakan metode blending dengan penambahan variasi gliserol (1 ml, 1,5 ml, 2 ml, 2,5 ml dan 3 ml). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan volume gliserol berpengaruh terhadap kualitas morfologi bioplastik. Penambahan volume gliserol yang terlalu banyak akan menurunkan kualitas morfologi bioplastik. Bioplastik terbaik pada penelitian ini adalah bioplastik dengan penambahan variasi gliserol 2 mL dengan massa 15,2 gr dan tebal 0,5 mm. Kata kunci: air cucian beras, bioplastik, gliserol 1. PENDAHULUAN Sampah kini semakin menjadi permasalahan yang pelik bagi lingkungan kita. Lebih-lebih sampah plastik yang sangat sulit diuraikan. Sementara disisi lain, ketergantungan kita pada plastik makin hari makin bertambah, tidak terkecuali untuk kemasan makanan. Penggunaan plastik ini menimbulkan berbagai macam persoalan lingkungan, yaitu bahan pembuatan plastik seperti minyak bumi, gas alam dan batu bara yang keadaannya di alam semakin menipis dan sangat sulit diuraikan oleh mikroba di dalam tanah sehingga menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Sebagai solusi permasalahan tersebut, kini telah banyak dikembangkan bioplastik, yaitu merupakan salah satu jenis plastik yang hampir keseluruhannya terbuat dari bahan yang dapat diperbaharui dan diuraikan secara alami oleh mikroorganisme. Bioplastik tersebut dapat dibuat dari bahan-bahan organik antara lain: selulosa, kolagen, pati, kasein, protein, atau lipid (Nurseha, 2012). Sebagaimana bulir serelia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati sekitar 80-85%. Pati beras terdiri dua polimer karbohidrat yakni amilosa dan amilopektin( Hidayatullah, 20112). Air cucian beras merupakan air sisa proses pencucian beras yang pada umumnya jarang dimanfaatkan sehingga hanya dibuang. Air cucian beras mengandung karbohidrat jenis pati sebanyak 76% pada beras pecah kulit. Kandungan karbohidrat ini memenuhi syarat pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum dalam pembuatan nata. Nata adalah selaput tebal pada permukaan medium, bisa digunakan sebagai bahan pangan, merupakan hasil fermentasi bakteri Acetobacter xylinum yang membentuk lembaran gel dipermukaan substrat yang berupa selulosa (Arviyanti & Yulimartani, 2009). Acetobacter xylinum tergolong dalam famili Pseudomonas dan termasuk genus Acetobacter. Bakteri ini membentuk asam dari glukosa, etil alkohol, propil alkohol dan glikol serta mengoksidasi asam asetat menjadi CO2 dan air. Sifat yang spesifik dari bakteri ini adalah kemampuannya untuk membentuk selaput tebal pada permukaan media fermentasi, dan ternyata adalah komponen yang menyerupai selulosa (selulosic material), komponen inilah yang selanjutnya disebut nata. Nata merupakan material selulosa yang terbentuk diduga berasal dari pelepasan lendir Acetobacter xylinum yang merupakan hasil sekresi metabolisme gula yang ditambahkan pada pembuatan nata. Baik pati maupun sukrosa yang ditambahkan dalam pembuatan nata, akan dihidrolisis menjadi glukosa dan diubah oleh bakteri melalui proses biokimia menjadi selulosa. Selulosa yang terbentuk berupa benang-benang ISBN 978-602-99334-4-4 72 A.14 bersama dengan polisakarida berlendir membentuk suatu jalinan secara terus menerus menjadi lapisan nata. Gelembung-gelembung CO2 yang dihasilkan selama fermentasi mempunyai kecenderungan melekat pada lapisan ini, sehingga menyebabkan lapisan tersebut terangkat ke permukaan cairan (Riwayati, 2006). Pembuatan bioplastik dalam penelitian ini menggunakan bahan dasar air cucian beras. Limbah cucian beras diolah menjadi nata dengan menggunakan bakter

Recently converted files (publicly available):