• Document: GEOLOGI DAN STUDI PENGARUH BATUAN DASAR TERHADAP DEPOSIT NIKEL LATERIT DAERAH TARINGGO KECAMATAN POMALAA, KABUPATEN KOLAKA PROPINSI SULAWESI TENGGARA
  • Size: 1.21 MB
  • Uploaded: 2018-12-01 09:15:56
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 5, No. 2, Juli 2012 GEOLOGI DAN STUDI PENGARUH BATUAN DASAR TERHADAP DEPOSIT NIKEL LATERIT DAERAH TARINGGO KECAMATAN POMALAA, KABUPATEN KOLAKA PROPINSI SULAWESI TENGGARA Ernita Nukdin Mahasiswa Magister Teknik Geologi UPN “Veteran” Yogyakarta SARI Penelitian berada pada konsesi PT. INCO, Tbk Pomalaa daerah Taringgo, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Propinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan hasil pengamatan, pengukuran dan analisis struktur geologi terdapat satuan batuan yang ada pada daerah penelitian berupa satuan batuan peridotit, satuan batuan sekis Pompangeo, satuan batuan konglomerat Langkowala, dan satuan batuan breksi Alangga. Jenis batuan dasar sangat berpengaruh pada pembentukan endapan nikel laterit. Dengan litologi berbeda maka kadar unsur sebagai unsur,kadar Ni pada dunit lebih tinggi dibandingkan harzburgit,lherzolit dan serpentinit.Hal ini dikarenakan oleh kandungan olivin dan piroksen yang terkandung didalamnya,dimana olivin dan piroksen merupakan mineral pembawa Ni. Selain batuan dasar struktur geologi juga berpengaruh yaitu sebagai media untuk mempercepat proses pelapukan.Selain itu morfologi dan topografi berperan penting dalam penyebaran unsur kimia dan proses lateritisasi.Kelerengan yang <20 memungkinkan untuk membentuk laterit karena tingkat erosi yang kecil. LATAR BELAKANG Peridotit merupakan salah satu batuan asal pembawa nikel, dalam batuan tersebut terdapat variasi mineralogi maupun prosentase mineralogi yang berbeda. Pelapukan pada batuan ini menyebabkan unsur-unsur yang bersifat mobile terdeplesi sedangkan unsur-unsur dengan mobilitas rendah sampai immobile seperti Ni, Fe, dan Co mengalami pengkayaan secara residual dan sekunder. Berdasarkan perbedaan komposisi kimia, karakteristik batuan dasar dan derajat serpentinisasi, daerah telitian dibagi menjadi dua tipe batuan dasar pada daerah Taringgo yaitu Peridotit dan Konglomerat. Perbedaan batuan dasar ini dapat mempengaruhi karakteristik deposit nikel yang menghasilkan perbedaan unsur kimia pada masing – masing batuan dasar. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh batuan dasar pada deposit nikel laterit dengan tujuan mengetahui kendali geologi terhadap pembentukan nikel laterit, pola penyebaran kadar endapan nikel laterit dan unsur-unsur lain serta mekanisme pembentukannya. Kendali geomorfologi untuk penentuan kondisi topografi yang berpotensi untuk terakumulasinya endapan nikel laterit, mengetahui pengaruh dan karakteristik batuan dasar terhadap deposit nikel laterit, pola penyebaran, kadar Ni, ,serta faktor-faktor lain yang mempengaruhi pembentukan nikel laterit, seperti iklim (cuaca dan temperatur). 99 Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 5, No. 2, Juli 2012 Gambar 1. Peta lokasi penelitian (INCO Pomalaa, 2004). GEOLOGI Daerah Taringgo dan sekitarnya mempunyai morfologi perbukitan dari landai sampai curam dan dataran dibeberapa tempat, yang tersusun oleh 4 satuan batuan dari tua ke muda yaitu: satuan batuan peridotit kompleks ultramafik yang terdiri dari batuan peridotit dan serpentinit, satuan batuan sekis kompleks pompangeo terdiri dari batuan sekis mika, satuan batuan konglomerat formasi langkowala terdiri dari batuan konglomerat, satuan batuan formasi alangga terdiri dari batuan breksi. Struktur geologi di daerah penelitian secara umum sangat sulit ditemukan. Hal ini dikarenakan adanya proses pelapukan (lateritisasi) yang terjadi yang menyebabkan bagian permukaan tertutupi oleh tanah (soil) dan banyaknya vegetasi sehingga singkapan batuan dasar (fresh rock) pada permukaan sangat sulit ditemukan. Sebagian besar endapan laterit yang terbentuk menutupi batuan dasarnya (bedrock). Struktur geologi yang dominan dijumpai didaerah penelitian adalah struktur kekar (joint) serta breksiasi. Kekar- kekar yang dijumpai dilapangan ada yang telah terisi mineral seperti kuarsa, krisopras maupun garnierit dan adapula yang tidak. Kekar-kekar yang dijumpai tersebut merupakan kekar-kekar yang saling berpasangan. Berdasarkan hasil analisa stereografis menggunakan diagram roset, maka didapatkan bahwa kekar dan data breksiasi memiliki orientasi arah umum shear N 223 º E / 56 º dan arah umum Gash N 002 º E / 55 º, Plunge, Bearing 12 º, N 120 º E, Rake 22 º, bidang sesar : N 321 º E / 30 º, dengan arah tegasan utama σ1 : 24°, N 080° E , σ2 : 66°, N 257° E, σ3 : 03°, N 348° E. 100 Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 5, No. 2, Juli 2012 Gambar 2. Kolom Stratigrafi daerah telitian. Gambar 3. Kenampakan breksiasi ( Arah kamera N 218° E). PENGARUH BATUAN DASAR TERHADAP DEPOSIT NIKEL LATERIT Petrografi batuan Analisa petrografi batuan dilakukan secara megaskopis dan mikroskopis pada conto batuan hasil pemboran (coring) serta dari singkapan batuan yang diambil di lapangan. Secara megaskopis daerah telitian terdiri dari batuan perido

Recently converted files (publicly available):