• Document: SYEKH YUSUF AL-MAKASARI, SEORANG PEJUANG YANG MENGHARUMKAN NAMA MAKASSAR. Oleh: Prof.DR. H. Abu Hamid
  • Size: 312.64 KB
  • Uploaded: 2019-05-17 17:09:58
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

SYEKH YUSUF AL-MAKASARI, SEORANG PEJUANG YANG MENGHARUMKAN NAMA MAKASSAR Oleh: Prof.DR. H. Abu Hamid A. Pendahuluan Tokoh Syekh Yusuf lahir dalam lingkup Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan pada tahun 1626, adalah putra asli suku bangsa Makassar. Ayahnya adalah Raja Gowa ke – 14 Sultan Alauddin (1593-1639) dan Ibunya St. Aminah (bukan permaisuri). Masa kelahirannya sementara berlangsung Islamisasi ke dalam masyarakat Sulawesi Selatan. Ia dipersiapkan oleh orang tuanya untuk menjadikan muballiq guna menetapkan ajaran Islam dalam kerajaan. Sejak remaja, Syekh Yusuf belajar Ilmu Agama dari Sayed Ba‟ Alwy bin Abdullah Tahir di Bontoala, ketika itu menjadi pusat pengajaran islam. Dalam usia 18 tahun beliau berangkat ke Banten, kemudian ke Aceh untuk memperdalam ilmu agamanya, selama 5 tahun. Tujuan utama memang ke tanah Hijaz (Timur Tengah) untuk mencari ilmu hakikat islam. Dalam tahun 1649 beliau berangkat ke Tanah Hijaz (Negeri Yaman, Mekkah dan Madinah) dan Damaskus. Di sana menghadap pada khalifah-khalifah tarikat dan mendapat ijazah untuk mengajarkan Tarikat-Tasauf, seperti tarikat Ba‟Aalwiyah, Naqsyabandiah, Syattariyah dan Khalwatiyah. Dalam tahun 1664 M, Syekh Yusuf kembali ke Hindia memenuhi undangan Sultan Banten Tirtayasa yang sedang bersiap-siap menghadapi serangan kompeni. Strategi kompeni untuk mengamankan penjajahan, mula-mula memerangi kerajaan Gowa yang dikenalnya sebagai raksasa maritime pada masa itu, menguasai bagian timur Hindia Timur. Giliran berikutnya adalah kerajaan Banten yang menjadi pusat perdagangan di bagian barat. Perang antara Banten dan Kompeni tidak dapat dihindari, berlangsung dari tahun 1682-1683 M, selama 22 bulan. Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap (bulan Maret 1683), akhirnya komandan laskar dipimpin oleh Syekh Yusuf dengan 5000 orang lasykar terdiri atas orang Makassar, Bugis, Melayu dan Jawa. Secara ringkas, uraian berikutnya dilukiskan bagaimana Syekh Yusuf sampai dikenal dunia dan diangkat jadi pahlawan nasional di negerinya orang, adalah salah satu aspek turut mengharumkan nama Makassar di mana-mana. 1 B. Syekh Yusuf dalam Mitos Sejarah hidup Syekh Yusuf, masih dipersoalkan oleh berbagai kalangan, terutama di Makassar. Persoalan itu beredar, karena Lontara Gowa (LG) yang dibaca oleh masyarakat, penuh cerita kesaktian dan penghormatan kepada Tuanta Salamaka. Cerita itu sungguh berlebihan tidak masuk di akal sehat. Kehidupan Tuanta itu dibumbui cerita mitos yang merupakan cirri system kepercayaan pada masanya. Andaikata Tuanta mengetahui hal ini, dia pula akan marah, karena tidak sesuai dengan ajaran islam. Lontara Gowa (LG) bercerita tentang ayah Tuanta Salamaka, disebutkan “Orang Tua”, kemudian orang tua itu dinamakan Nabi Hidere. Ibunya bernama St. Aminah puteri Gallarang Moncongloe (GM). Dikatakan putri GM itu amat cantik. Suatu ketika Raja Gowa I Mangarangngi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin menyuruh jemput puteri GM itu. Orang tua (Nabi Hidire) membawa istirinya menghadap raja. Permaisuri raja (ibu Sultan Malikussaid) langsung meminta suaminya memperisterikan isteri orang tua itu. Raja menolak, tetapi orang tua itu menyerahkan isterinya, maka raja menerimanya. Sesudah itu oran tua pulang turun dari istana. Isteri orang tua itu ditempatkan di luar peraduan baginda. Suatu malam, terlihat badan perempuan cantik itu, sementara ia tidur tidak rapat badannya di kasur, terangkat sejengkal sampai sehasta. Dari pusarnya terpancar sinar terang menyinari kelambu terdengar pula zikir “la ilaha illallah” keluar dari pusarnya. Mendengar keanehaan itu, raja perintahkan untuk mengantar perempuan itu ke Tallo. Tiada berapa lama, prempuan itu melahirkan seoang bayi laki-laki. Persalinan itu menimbulkan cahaya terang benderang di Tallo sampai Ujung Pandang, menyinari seluruh wilayah kerajaan Gowa. Anak itu kemudian dinamai Yusuf. Cerita rakyat di Gowa dan memang tertulis dalam LG, bahwa Nabi Hidere bila berjalan kakinya tidak menyentuh tanah, tak diketahui nama aslinya dan dari mana asal usulnya. Aminah dikatakan sudah mengandung lalu dikawini oleh Raja Gowa Sultan Alauddin. Berbeda lagi cerita dalam Lontara Tallo (LT) bahwa ayah yusuf adalah GM, sedang ibunya adalah Aminah puteri Dampang Ko‟mara. Baru saja 40 hari sesudah Aminah bersalin, ia diperisterikan oleh Raja Gowa, setelah dinyatakan bercerai dari suaminya. Beda lagi cerita orang yang merasa keturunan Syekh Yusuf di Takalar dan Sudiang, bahwa ayah 2 Yusuf adalah Abdullah Khaidir. Nama ayah yusuf „Abdullah‟ tertulis pula dalam risalahnya “Hasyiyah fi Kitab al Ambaai fi l‟raab La ilaha illallah”. Hamka per

Recently converted files (publicly available):