• Document: Yusuf Andi Senjaya dan Wahyu Surakusumah ABSTRAK
  • Size: 98.24 KB
  • Uploaded: 2018-12-08 21:41:14
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

POTENSI EKSTRAK DAUN PINUS (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) SEBAGAI BIOHERBISIDA PENGHAMBAT PERKECAMBAHAN Echinochloa colonum L. DAN Amaranthus viridis. ( Potencies of Pine leaf Extract (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) as Bioherbicides for Gemination Inhibitor of Echinochloa colonum L. and Amaranthus viridis) Yusuf Andi Senjaya dan Wahyu Surakusumah ABSTRAK The allelopathic substances are an organic agents which produced and released by a plant that cause alteration on the neighboring plants. The characteristics of allelochemicals usually inhibit germination of other species and sometime will reduce growth of the other species which associate with producer of allelochemicals. The mechanism of allelochemicals can be used to suppress a germination of Echinochloa colonum L. and Amaranthus viridis L. These plants are weeds species of rice plant in the rice field. The aims of this research were to study the allelochemicals effect from the leaf of pines (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) on germination of Echinochloa colonum L. and Amaranthus viridis L.,. The experimental design used Completely Randomized Design with five replicates for each concentration of (250, 500, 750, 1000 ppm) including control. The result which analysed with one-way Analyse of Varians (ANOVA) indicated that giving a pine leaf extracts were having an inhibit effect on germination of Echinochloa colonum L., and Amaranthus viridis L. Key words: Pinus merkusii Jungh. et de Vriese, allelopathy, weeds, Echinochloa colonum L., Amaranthus viridis L. PENDAHULUAN Pinus merupakan tanaman yang dapat digunakan untuk reboisasi, karena pinus memiliki beberapa fungsi, diantaranya sebagai tanaman pelindung tanah secara ekologis dan sebagai penghasil kayu. Selain itu, pinus juga memiliki daya kompetitif yang besar terhadap tumbuhan lain di sekitarnya sehingga mampu bersaing (Marisa, 1990). Pinus merkusii memiliki saluran resin yang dapat menghasilkan suatu metabolit sekunder bersifat alelopati (Taiz & Zeiger, 1991). Alelokimia pada resin tersebut termasuk pada kelompok senyawa terpenoid, yaitu monoterpen α-pinene dan β-pinene (Harborne, 1987; Taiz & Zeiger, 1991). Senyawa ini diketahui bersifat toksik baik terhadap serangga maupun tumbuhan. Selain itu, senyawa tersebut merupakan bahan utama pada pembuatan terpentin. Monoterpen (C–10) merupakan minyak tumbuh-tumbuhan yang terpenting yang juga bersifat racun (Sastroutomo, 1990). Dari beberapa kajian ekologis pada daerah pertumbuhan pohon pinus menunjukkan tidak ada pertumbuhan tanaman herba, hal tersebut diduga karena serasah daun pinus yang terdapat pada tanah mengeluarkan zat alelopati yang menghambat pertumbuhan herba. Hal tersebut di perkuat dengan penelitian terhadap kemampuan daun pinus yang belum terdegradasi yang dapat menurunkan pertumbuhan panjang radikula kecambah sawi (Marisa, 1990). Hal tersebut menunjukkan bahwa kandungan senyawa pada daun pinus merkusii mempunyai potensi sebagai bahan bioherbisida untuk mengkontrol pertumbuhan gulma yang dapat menganggu pertumbuhan produksi tanaman pangan antara lain tanaman padi. Salah satu gulma yang mengganggu pertumbuhan tanaman padi adalah Echinochloa colonum dan Amaranthus viridis. Pengendalian gulma pada dasarnya adalah suatu usaha untuk mengubah keseimbangan ekologis yang bertujuan menekan pertumbuhan gulma, tetapi tidak berpengaruh negatif terhadap tanaman budidaya. Dengan demikian diharapkan dengan adanya pengolahan tanah, waktu tanam, pemupukan, jarak tanam dan varietas yang tepat, dapat menekan pertumbuhan gulma sehingga persaingan antara tanaman dengan gulma tidak dapat terjadi. Biasanya tanaman sangat peka terhadap faktor lingkungan pada umur sepertiga sampai setengah umur tanaman. Maka pada saat itulah waktu yang tepat untuk dilakukan pengendalian gulma (Sukman dan Yakup, 2002). Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas atau mengendalikan pertumbuhan gulma ini, salah satunya adalah dengan menggunakan herbisida. Penggunaan herbisida sintetis yang berlebihan dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan, karena sifatnya yang sulit terurai dalam tanah sehingga meninggalkan residu atau terjadi pengendapan bahan toksikan pada medium tanah (bioakumulasi) dan biomagnifikasi (pembesaran kadar bahan toksikan melalui rantai makanan). Hal tersebut dapat membahayakan organisme lain terutama manusia sebagai konsumen terakhir (biomagnifikasi) pada rantai makanan dari tanaman padi ini. Adanya fenomena tersebut menjadi pemicu timbulnya banyak penelitian yang berusaha mencari solusi, yaitu suatu bahan alami yang dapat digunakan sebagai bioherbisida yang sifatnya aman karena mudah terdegradasi dalam tanah sehingga tidak meninggalkan residu. Salah satu hasil penelitian yang dapat dijadikan alternatif dalam penggunaan herbisida adalah pemanfaatan mekanisme alelopati dari suatu

Recently converted files (publicly available):