• Document: BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial yang artinya manusia membutuhkan orang lain dalam
  • Size: 317.17 KB
  • Uploaded: 2019-02-13 17:22:44
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yang artinya manusia membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Adanya interaksi sosial antara manusia yang satu dengan yang lainnya menjadi suatu ciri bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Oleh karena itu manusia diciptakan berbeda-beda agar dapat menolong dan melengkapi manusia lainnya. Dengan adanya interaksi terus menerus maka memungkinkan adanya perasaan khusus yang berkembang terhadap orang lain mulai dari persahabatan sehingga lama-kelamaaan menjadi hubungan romantis atau yang disebut dengan berpacaran. Menurut Erikson (1968), individu mempunyai tugas perkembangan yang berbeda pada tiap tahapannya termasuk saat berada di tahap dewasa. Tugas perkembangan individu dewasa adalah membentuk hubungan interpersonal yang intim dengan orang lain. Jika individu dapat membentuk pertemanan yang sehat dan hubungan interpersonal yang intim dengan orang lain maka individu akan mencapai keintiman. Sebaliknya bila individu tidak mampu membentuk pertemanan yang sehat dan hubungan interpersonal yang intim maka individu akan merasa terisolasi. Hubungan romantis atau berpacaran merupakan suatu tahapan penting karena hal itu berhubungan dengan proses pemilihan pasangan hidup. Ketika individu sudah menemukan seseorang yang dirasa tepat maka ada kemungkinan untuk mempertahankan hubungan romantisnya dalam berpacaran ke tingkat pertunangan hingga pada jenjang yang lebih serius 1 Universitas Kristen Maranatha 2 lagi yaitu pernikahan. Pernikahan dilakukan oleh individu yang sudah memiliki komitmen untuk membentuk keluarga dengan orang yang dicintainya (Bird & Melville, 1994). Wanita yang sudah memiliki komitmen untuk membentuk keluarga dengan perwira disebut dengan istri perwira. Kehidupan para istri ini tentu agak berbeda dengan istri dari masyarakat non-militer. Sebelum menikah calon istri perwira TNI-AD harus melewati beberapa tes mulai dari tes kesehatan, psikologis, sampai pengetahuan bela negara. Setelah menikah istri perwira TNI-AD wajib tergabung dalam Persatuan Istri Tentara Kartika Chandra Kirana (PERSIT) yang setiap bulannya harus menghadiri pertemuan PERSIT di kantor suaminya. Keluarga militer juga dihadapkan dengan masalah-masalah umum yang sama seperti keluarga non-militer misalnya masalah keuangan, perawatan anak dan orangtua, spiritualitas dan agama, serta hubungan dengan keluarga besar. Namun keluarga militer khususnya istri perwira memiliki keunikan karena harus menghadapi tantangan untuk beradaptasi terhadap penugasan pasangan dan perpisahan keluarga. Selain mengurus rumah tangga ataupun bekerja, istri perwira harus berhadapan dengan konsekuensi berpindah-pindah tempat mengikuti penugasan suami dan juga perpisahan dengan suami saat suami dinas ke luar kota atau luar negeri. Pindah rumah karena harus mengikuti penugasan suami ke daerah lain membutuhkan keputusan-keputusan yang dibuat oleh instansi, perwira, dan istri. Keputusan untuk memindahkan perwira TNI-AD ditentukan oleh lembaga TNI-AD yang harus segera dilaksanakan oleh perwira tersebut setelah menerima surat perintah pelaksanaan kepindahan. Pindah dapat membuat stres karena menuntut penyesuaian dari keluarga terhadap beberapa perubahan sekaligus. Perubahan tersebut bisa merupakan perubahan yang jelas seperti lokasi geografis atau kurang jelas misalnya dukungan sosial, yang biasanya didapat dari keluarga, Universitas Kristen Maranatha 3 tetangga, atau teman. Pengalaman pindah dapat berpengaruh negatif terhadap kesejahteraan keluarga militer, walaupun efeknya mungkin pendek atau panjang. Perpisahan saat suami dinas ke luar kota atau luar negeri adalah bagian dari kehidupan militer dan juga dialami oleh kebanyakan personel militer dan keluarganya. Waktu dinas suami bisa beberapa hari, minggu, bulan atau bisa juga lebih dari satu tahun. Ketika menghadapi situasi perpisahan, istri juga akan mengalami stres dari berbagai hal. Saat berpisah dengan suami, istri akan kehilangan pasangan untuk membantu masalah-masalah rumah tangga yang biasanya dihadapi berdua dan istri juga akan kehilangan hubungan romantis dan keintiman seksual dengan pasangan. Hal tersebut mungkin memengaruhi kualitas ikatan istri perwira dengan pasangannya. Setiap individu memiliki ikatan namun kualitas ikatannya berbeda-beda. Ada individu yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan yang akrab dengan orang lain, namun ada juga individu yang cepat akrab dan mampu membina hubungan yang harmonis dengan orang lain. Istri perwira yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan yang akrab dengan orang lain akan memiliki kemungkinan mengal

Recently converted files (publicly available):