• Document: LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM GOLONGAN DARAH PADA MANUSIA
  • Size: 488.71 KB
  • Uploaded: 2019-03-24 09:19:37
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM “GOLONGAN DARAH PADA MANUSIA” Oleh Nama : Rizha Yulinda Salsabila NIM : 160210102056 Program Studi : Pendidikan Fisika Kelompok :1 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JEMBER 2017 I. JUDUL Golongan Darah pada Manusia II. TUJUAN 2.1 Dapat menjelaskan penggolongan darah manusia III. DASAR TEORI Darah adalah jaringan hidup yang sangat kompleks. Darah mengandung banyak sel-sel darah dan plasma darah. Bagian seluler merupakan 45% dari volume darah dan termasuk sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Sel darah merah (erthrocytes) berfungsi untuk mentransportasikan oksigen ke seluruh tubuh, sel darah putih (leukocytes) berfungsi untuk sistem kekebalan tubuh, dan trombosit (platelet) yang berfungsi dalam pembekuan darah. Sisanya 55% adalah plasma darah, yang merupakan 92% air dan melakukan beberapa fungsi dalam tubuh. Plasma bertindak sebagai media trasportasi untuk sel-sel darah dan mengandung albumin, fibrinogen (penting untuk pembekuan darah), globulin dan antibodi (Gesa dan Fredy, 2016 : 141). Medium transport dari sistem sirkulasi adalah darah. Darah merupakan cairan jaringan tubuh. Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemogoblin, protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen (Waluyo, 2010 : 172). Bidang kedokteran dituntut untuk mampu dan dapat memberikan kontribusi dalam hal memeriksa kebenaran hasil perkawinan antar golongan darah melalui perhitungan ABO dan perhitungan rhesus, sehingga tidak ada kesalahan dalam menentukan golongan darah manusia. Sistem Pakar berbasis Rule merupakan salah satu solusi yang diharapkan mampu membantu manusia dalam menentukan golongan darah dari hasil perkawinan (Amroni, 2016 : 320). Pengenalan golongan darah dilakukan dengan cara mengambil dua tetes darah yang akan diindetifikasi. Darah tersebut akan diletakkan pada sebuah preparat dan dibagi dalam 2 bagian. Masing-masing bagian darah akan ditetesi serum anti A dan anti B. Setelah di campur, akan dilakukan pengamatan secara langsung dengan mata telanjang terhadap reaksi yang terjadi pada darah yang telah ditetesi serum. Dari hasil pengamatan ini akan ditentukan darah tersebut masuk dalam golongan A, B, AB atau O. Secara komputerisasi, golongan darah dapat dikenali melalui pola dari citra darah yang telah telah ditetesi serum anti A dan anti B. Setelah melalui beberapa tahap pengolahan citra, sistem akan melakukan proses klasifikasi untuk menentukan jenis golongan darah dari citra darah tersebut (Fitryadi dan Sutikno, 2016 : 2). Ada sejumlah antigen yang biasanya terdapat pada sel darah merah. Antigen-antigen itu menentukan golongan darah seseorang. Sebenarnya hanya ada dua jenis antigen, yaitu antigen A dan antigen B. Orang-orang dengan antigen A pada sel-sel darah merahnya mengandung antibodi B dalam plasma darah mereka. Orang-orang itu disebut bergolongan darah A. Orang-orang dengan antigen B mengandung antibodi A dalam plasma darahnya. Mereka dikelompokkan sebagai bergolongan darah B. Orang-orang dengan antigen A dan B sekaligus pada sel-sel darah merah disebut bergolongan darah AB, dan mereka tidak memiliki antibodi ABO dalam plasmanya. Orang-oranag bergolongan darah O tidak memiliki antigen pada sel-sel darahnya, tetapi serumnya mengandung kedua jenis antibodi itu (Fried dan George, 2005 : 225). Memban plasma sel meliputi banyak molekul yang bervariasi antar individu. Tubuh individu mengabaikan versi molekul yang terjadi di selnya, tetapi molekul permukaan sel tidak familiar menyebabkan respons defensif pada sistem imunitas. Aglutinasi ialah respons normal ketika protein plasma yang disebut antibodi mengikat sel asing seperti bakteri dan membentuk gumpalan yang menarik fagosit. Aglutinasi dapat juga terjadi ketika sel darah merah dengan molekul permukaan tidak familiar ditransfusikan ke tubuh orang. Hasilnya ialah reaksi transfusi, ketika sistem imunitas resipien menyerang sel donasis, menyebabkannya untuk menggumpal bersama. Gumpalan sel menyumbat pembuluh darah kecil dan merusak jaringan. Reaksi transfusi dapat fatal (Starr et al., 2013 : 240). IV. METODE PRAKTIKUM 4.1 Alat dan Bahan a. Alat 1. Lanset / jarum steril 2. Jarum pentul 3. Spidol 4. Gelas obyek 5. Kertas putih b. Bahan 1. Serum A dan B 2. Alkohol 70% 3. Kapas 4. Darah segar manusia 4.2 Skema kerja Dengan menggunakan spidol, menarik garis tengah lu

Recently converted files (publicly available):