• Document: MANFAAT DAN PROSES SERTIFIKASI PERTANIAN ORGANIK
  • Size: 398.28 KB
  • Uploaded: 2019-05-17 13:55:16
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

MANFAAT DAN PROSES SERTIFIKASI PERTANIAN ORGANIK Muhamad Djazuli Lembaga Sertifikasi Organik INOFICE Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor muhamaddjazuli@yahoo.com ABSTRAK Meningkatnya kesadaran masyarakat dunia termasuk di Indonesia akan pola hidup sehat dan kembali ke alam (Back to Nature), menyebabkan permintaan produk pertanian organik (PO) yang dikenal dengan sehat, aman, dan ramah lingkungan meningkat. Pasar dunia PO saat ini mencapai lebih dari US$17,5 miliar dengan laju peningkatan sekitar 10- 20% per tahun. Tingginya permintaan produk PO, menyebabkan munculnya pemalsuan produk PO di pasaran dan merugikan konsumen. Untuk itu, diperlukan program penjaminan produk PO dalam bentuk Sertifikasi Pertanian Organik yang legal dan diakui secara nasional, regional, maupun internasional. Manfaaat sertifikasi PO antara lain (1) memberi jaminan produk PO (certified) yang memenuhi persyaratan sistem PO internasional, (2) melindungi konsumen dan produsen dari manipulasi atau penipuan produk PO, (3) menjamin praktek perdagangan yang lebih etis dan adil, dan (4) memberikan nilai tambah pada produk dan mendorong meraih akses pasar yang lebih luas harga yang lebih tinggi. Ruang lingkup sertifkasi PO antara lain produk tanaman atau ternak dan produk olahan primer untuk konsumsi manusia atau ternak (SNI 6729:2002), serta produk benih, pupuk, dan pestisida organik (SNI 6729:2013). Proses sertifikasi meliputi (a) pengajuan permohonan sertifikasi produk organik, (b) pengisian lembar permohonan sertifikasi oleh Pelaku Usaha, (c) audit kecukupan hasil isian formulir untuk menentukan kelayakan sertifikasi yang dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) dan apabila dinilai layak, maka dilanjutkan dengan penawaran biaya sertifikasi dan kesepakatan jadwal inspeksi, (d) pelaksanaan inspeksi meliputi audit dokumen, dan inspeksi fisik di lapang, (e) pemaparan hasil inspeksi di Sidang Komisi Sertifikasi (Komser) untuk menentukan kelulusan keorganikan produk yang diajukan oleh Pelaku Usaha, dan (f) penyerahan Sertifikat Organik dan hak menggunakan Logo Organik Indonesia oleh Pimpinan LSO kepada Pelaku Usaha, apabila Sidang Komser menyatakan lulus. Sertifikat Organik berlaku selama tiga tahun dan minimal sekali setahun dilakukan surveilen. Kata kunci: Sertifikasi Pertanian Organik, ruang lingkup, manfaat, proses, SNI 6729: 2013 PENDAHULUAN Dalam dekade terakhir ini, permintaan pangan berkualitas, sehat dan aman dikonsumsi, serta ramah terhadap lingkungan terus meningkat dari tahun ke tahun. Sejalan dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat dunia termasuk Indonesia. Berdasarkan data kebutuhan akan pasar produk organik, kebutuhan dunia akan Produk Organik mencapai lebih dari $ 20 milyar dengan peningkatan rata- rata sebesar 20%/th (Badan Litbang Pertanian, 2005). Total luas areal tanaman organik di Indonesia pada tahun 2011 diperkirakan mencapai lebih dari 225 ribu ha, dan baru sekitar 90 ribu ha atau sekitar 40% yang telah tersertifikasi atau mendapatkan sertifkat organik baik dari Lembaga sertifikasi organik (LSO) nasional dan internasional. Diharapkan dengan sosialisasi secara terus menerus dan berkesinambungan, dan akses pasar yang baik maka jumlah luas areal organik yang disertifkasi akan terus meningkat. Dilaporkan pula bahwa dari total areal organik yang telah disertifikasi, hanya sekitar 25% telah sertifkasi oleh LSO nasional. Sudah sejak lama LSO Internasional melakukan sertifikasi beberapa komoditas perkebunan, diantaranya adalah kopi organik Gayo, Nanggro Aceh Darussalam yang sudah lama dikenal di manca negara. 83 Prosiding Seminar Nasional Pertanian Organik Bogor, 18 – 19 Juni 2014 Dari beberapa definisi tentang Pertanian Organik salah satu badan dunia yang mengatur regulasi Produk organik yang berpusat di Eropa yaitu, International Federation Organic Association (IFOAM) mendefinisikan sebagai suatu proses produksi makanan dan serat yang dilakukan dengan cara-cara yang dapat diterima secara sosial, menguntungkan secara ekonomi, dan berkelanjutan secara agro-ekosistem. Di dalam SNI 6729 : 2013, Sistem Pertanian Organik melarang penggunaan pupuk dan pestisida kimia dalam budidaya tanaman pangan dan perkebunan, serta penggunaan pakan dan hormon sintetik untuk budidaya ternak (BSN, 2013). Untuk menghindari pengaruh akibat penggunaan pengubahan materi genetik yang tidak alami. Sistem Pertanian Organik juga melarang penggunaan benih yang berasal dari organisme hasil modifikasi genetik atau genetic modified organism/GMO (Kementerian Pertanian, 2013). Selain menghasilkan produk yang bermutu tin

Recently converted files (publicly available):