• Document: Tanaman Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) (Dokumen Pribadi)
  • Size: 219.75 KB
  • Uploaded: 2019-03-24 03:50:19
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Binahong Anredera cordifolia (Ten.) Steenis atau biasa dikenal dengan sebutan binahong merupakan tanaman menjalar yang bersifat perenial (berumur lama). Seperti herba lainnya, binahong memiliki berbagai sinonim dan sebutan nama antara lain: Boussingaultia cordifolia (Ten), Boussingaultia gracilis Miers, madeira vine (Inggris), dheng san chi (Cina), gondola (Indonesia). Panjang tanaman bisa mencapai 5 meter (Utami dan Desty, 2013). a. Klasifikasi Tanaman Binahong Secara ilmiah, tanaman Binahong atau dengan nama Latin Anredera cordifolia (Ten.) Steenis diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Classis : Dicotyledoneae Ordo : Caryophyllales (Tjitrosoepomo, 2010). Familia : Basellaceae Genus : Anredera Species :Anredera cordifolia (Ten.) Steenis (Bacer dan Bakhuizen, 1968). Gambar 2.1 Tanaman Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) (Dokumen Pribadi) 5 6 b. Morfologi Tanaman Binahong 1) Daun Daunnya termasuk daun tunggal, terletak berseling, bertangkai sangat pendek (subsessile), bentuk jantung (cordata), panjang 5-10 cm, lebar 3-7 cm, ujung runcing, pangkal berlekuk (emerginatus), tepi rata, helaian daun tipis lemas, permukaan licin, bisa dimakan (Nuraini, 2014). 2) Batang Batang tanaman binahong lunak, bentuk silindris, saling membelit, berwarna merah, dan bagian solid dengan permukaan halus (Utami dan Desty, 2013). 3) Akar Bentuk dari akarnya rimpang dan berdaging lunak (Susetya, 2012). 4) Bunga Bentuk bunganya majemuk rimpang, bertangkai panjang, muncul di ketiak daun, mahkota berwarna krem keputih-putihanan berjumlah lima helaian tidak berlekatan dan panjang helaian mahkota 0,5-1 cm, berbau harum (Susetya, 2012). c. Kandungan Kimia Tanaman Binahong Rachmawati, (2008) dalam Ekaviantiwi et al., (2013), kandungan metabolit sekunder daun binahong, yaitu flavonoid, alkaloid, tanin, steroid, triterpenoid, saponin, dan minyak atsiri. Selanjutnya, menurut penelitian Kumalasari dan Nanik, (2011), menyatakan bahwa hasil skrining fitokimia ekstrak etanol 70% dari batang binahong mengadung senyawa polifenol, flavonoid, dan saponin. Senyawa ini diduga memberikan konstribusi dalam aktivitas antimikroba. Flavonoid adalah senyawa fenol yang terdiri dari 15 atom karbon yang umumnya tersebar di dunia tumbuhan. Senyawa- 7 senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, biru, dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan (Susetya, 2012). Flavonoid dari ekstrak daun binahong memiliki aktivitas farmakologi sebagai antiinflamasi, analgesik, dan antioksidan (Mardiana, 2013). Flavonoid yang terkandung pada ekstrak daun binahong dari sampel segar dan kering adalah 7,81% mg/kg dan 11,23 mg/kg (Selawa, et al., 2013). Menurut penelitian Sugiyarto dan Paramita, (2014), kadar flavonoid total sampel kalus daun binahong bertekstur kompak diperoleh 0,0019%, sampel kalus remah sekitar 0,0017%, dan sampel daun sekitar 0,015%. Alkaloid adalah senyawa-senyawa organik yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan, bersifat basa, dan struktur kimianya mempunyai sistem lingkar heterosiklis dengan nitrogen sebagai hetero atomnya. Alkaloid padat umumnya berwarna putih atau tidak berwarna, tetapi ada pula yang berwarna kuning (Sumardjo, 2009). Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar. Alkaloid memliki kemampuan sebagai antibakteri (Robinson, 1995 dalam Anasta et al., 2013). Hasil penelitian Titis et al., (2013) menunjukkan bahwa alkaloid total daun binahong menunjukkan sifat yang sangat sitotoksik dengan harga 85,583 ppm. Triterpenoid merupakan senyawa berbentuk Kristal, tidak berwarna, dan memiliki titik leleh yang tinggi (Indrawati dan Razimin, 2013). Berdasarkan penelitian Murdianto et al., (2013), hasil uji antibakteri dari isolat triterpenoid mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphyococcus aureus dan Escherichia coli. Saponin yaitu metabolit sekunder yang banyak terdapat di alam, terdiri dari gugus gula yang berkaitan dengan aglikon atau sapogen. Saponin memiliki sifat antibakteri dan antivirus berkhasiat sebagai obat antikanker, antitumor, dan penurun kolesterol (Mardiana, 2013).

Recently converted files (publicly available):