• Document: PERENCANAAN PEMELIHARAAN MESIN PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE
  • Size: 848.39 KB
  • Uploaded: 2019-03-24 03:30:41
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

PERENCANAAN PEMELIHARAAN MESIN PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) II PADA MESIN BLOWING OM (Studi Kasus: PT Industri Sandang Nusantara Unit Patal Lawang) PRODUCTION MACHINE MAINTENANCE PLANNING WITH RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) II IN BLOWING OM MACHINE (A Case Study in PT Industri Sandang Nusantara Unit Patal Lawang) Irawan Harnadi Bangun1), Arif Rahman2), Zefry Darmawan3) Jurusan Teknik Industri Universitas Brawijaya Jalan MT. Haryono 167, Malang 65145, Indonesia Email: irawan.bangun@gmail.com1), posku@ub.ac.id2), zefry_gue@yahoo.com3) Abstrak PT Industri Sandang Nusantara Unit Patal Lawang mesin-mesin nya bekerja secara terus menerus pada saat produksi sehingga menyebabkan mesin banyak yang mengalami kerusakan saat beroperasi. Untuk mengurangi kerusakan tersebut perlu adanya kebijakan perawatan yang optimal sehingga mesin dapat beroperasi dengan baik. Pada penelitian ini menggunakan metode Reliabilty Centered Maintenance (RCM) II untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mesin Blowing OM merupakan salah satu mesin yang penting dalam proses produksi benang. Mesin Blowing OM memiliki downtime tertinggi sehingga penelitian akan terfokus pada kompoenen mesin Blowing OM. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa komponen kritis pada mesin Blowing OM berdasarkan frekuensi kerusakan mesin dan total downtime adalah komponen flat belt dan spike lattice. Hasil analisis interval perawatan menunjukkan bahwa jenis kerusakan permukaan karet flat belt tidak rata memilik interval perawatan yang optimal sebesar 510 jam, karet flat belt longgar 260 jam, flat belt putus 580 jam, kayu spike lattice patah 620 jam, dan paku spike lattice patah 500 jam. Dari perhitungan total biaya perawatan optimal diperoleh hasil dengan jenis kerusakan permukaan karet flat belt tidak rata sebesar Rp 7.973.519,82, karet flat belt longgar Rp 11.000.673,81, flat belt putus sebesar Rp 14.061.553,06, kayu spike lattice patah sebesar Rp 19.170330,63, dan paku spike lattice patah sebesar 30.880.512,66. Metode Reliability Centered Maintenance (RCM) II dibandingkan dengan total biaya perawatan sebelumnya terjadi penurunan biaya perawatan dalam mesin Blowing OM sebesar 10,27%. Kata kunci : Reliability Centered Maintenance (RCM) II, ,downtime, perawatan 1. Pendahuluan penambahan biaya perawatan. Namun apabila Di dalam dunia industri, produk merupakan perawatan dilakukan dengan menyeluruh dan hasil utama dari suatu proses produksi yang teratur maka akan berguna untuk menjamin membentuk suatu sistem proses produksi. kontinuitas proses produksi dan umur dari Sistem proses produksi terdiri dari input, proses fasilitas produksi itu. operasi, dan output. Agar suatu sistem proses Mesin-mesin produksi yang sudah tua produksi dapat terus berjalan, maka dibutuhkan adalah salah satu penyebab utama tingginya kegiatan-kegiatan pemeliharaan (maintenance) downtime. Tingginya downtime pada mesin terhadap peralatan dan mesin-mesin produksi. merupakan masalah yang rata-rata dihadapi Menurut Assauri (1993), perawatan diartikan perusahaan sekarang ini. Kondisi ini tentu akan sebagai suatu kegiatan pemeliharaan fasilitas mengakibatkan proses produksi pada pabrik serta mengadakan perbaikan, perusahaan menjadi tidak efisien. penyesuaian atau penggantian yang diperlukan Patal Lawang adalah perusahaan yang agar suatu keadaan operasi produksi sesuai memproduksi benang dengan tipe R 30. dengan yang direncanakan. Hal ini dapat Permasalahan yang sering terjadi di Patal dicapai dengan cara mengurangi kemacetan Lawang adalah kondisi mesin yang sudah tua. atau kendala sekecil mungkin, sehingga sistem Kondisi mesin yang tua menyebabkan tingginya dapat bekerja secara efisien. Namun seringkali downtime dari masing-masing mesin. Patal yang terjadi adalah kelalaian dan perawatan Lawang melaksanakan tindakan preventive baru diingat apabila kerusakan telah terjadi maintenance, yaitu tindakan perawatan mesin- dalam sistem produksi yang menyebabkan mesin produksi yang dilakukan setiap hari. 997 Tetapi meskipun telah dilakukan kegiatan program pemeliharaan yang difokuskan pada preventive maintenance tetap saja masih terjadi komponen atau mesin-mesin kritis (critical item kerusakan pada saat mesin beroperasi. list) dan menghindari kegiatan perawatan yang Di Patal Lawang memiliki beberapa mesin tidak diperlukan dengan menetukan interval produksi dalam pembuatan benang R 30, seperti pemeliharaan yang tepat (Moubray 1997). mesin Blowing, Carding, Drawing,

Recently converted files (publicly available):